Iseng berbuah jahitan

Pernah ga sih menggigit-gigit bibir bagian dalam? biasanya kebiasaan ini dilakukan seseorang yang sedang grogi, sedang berpikir, atau sekedar iseng. Nah, saya masuk kategori yang ketiga. Suatu ketika, sekitar tiga bulan yang lalu, saya iseng mulai menggigiti bibir bagian dalam. Karena judulnya iseng, jadilah konsekuensinya di bibir yang sering digigit tersebut tumbuh sariawan, berupa benjolan kecil yang didalamnya berisi seperti cairan.

Karena muncul sariawan, akhirnya saya pun menghentikan kebiasaan ini, well, sesekali kalo kelupaan masih suka gigit-gigit bibir bagian dalam ini sih :p tapi ternyata si benjolan tak kunjung hilang. Saya coba obati dengan meminum minuman bervitamin C dan makan buah yang mengandung vitamin C dengan harapan si sariawan bakal kempes dan hilang, tapi semuanya gagal. Benjolan yang semula kecil malah membesar karena keteledoran saya yang suka lupa untuk tidak menggigit bibir.

Tiga bulan berlalu, benjolan tersebut tak kunjung hilang. Jujur saya mulai merasa khawatir dengan sariawan ini. Nah, kebetulan semenjak dua bulan ini saya juga rajin ke dokter gigi dalam rangka memperbaiki gigi yang bolong-bolong, haha…lalu, sensei saya mengamati benjolan ini, dan dengan keterbatasan istilah kedokteran dan keterbatasan bahasa diantara kami, maka dia pun menjelaskan bahwa benjolan ini disebut salivary glands, intinya seperti sebuah kelenjar yang tumbuh di dalam bibir, salah satu penyebabnya karena kebiasaan menggigit bibir ini.

Sensei lalu menyarankan agar kelenjar ini dipotong, hal yang membuat saya jadi khawatir, karena artinya saya perlu melakukan “operasi” minor. Alhamdulillah karena sensei bisa melakukannya, dan hanya perlu sekitar 30 menit katanya. Yang lebih melegakan karena dia bilang bahwa kelenjar ini NOT BAD, fyuuuh.. lumayan lega.

Lalu, di hari yang ditentukan, saya pun menerima suntikan bius di bibir lalu menjalani operasi pemotongan kelenjar tersebut. Karena sudah dibius, saya jadi tidak merasakan apa-apa, namun saya tak ingin membuka mata dan melihat berbagai peralatan di meja sensei. Cukuplah telinga saya mendengar suara gunting, dan entah alat apalagi yang dipakai sensei.

Dan kurleb tiga puluh menit, selesailah pengangkatan kelenjar tersebut. Bibir saya dijahit dua jahitan, dan kata sensei minimal seminggu jahitannya baru akan dilepas. Lalu sensei menunjukkan dua kelenjar yang diangkat dari bibir saya, yang dibagian dalam kecil dan lebih kenyal, yang dibagian luar kelenjarnya lebih besar dan lebih keras. Dan yang bikin takut adalah ternyata banyak darah yang keluar ketika pengangkatan kelenjar ini, menilik dari jumlah kapas berdarah yang ada di meja sensei.

Sensei kemudian meresepkan antibiotik yang harus diminum dan pain killer in case of pain after the anesthesia gone.

Nah, menebus obat di apotek juga merupakan hal yang baru untuk saya, sebelumnya ga pernah beli obat di apotek. Disini kunjungan pertama saya harus mengisi formulir yang intinya menanyakan riwayat alergi obat dll, sebagai referensi mereka dalam memberikan obat. Mereka juga meminta insurance card saya. Lalu, setelah menunggu beberapa saat, salah seorang apoteker akan memberikan obatnya dan menjelaskan cara penggunaannya. Alhamdulillah untuk obat yang saya konsumsi saya hanya mengeluarkan 600 yen.

Well, lesson learned adalah jangan melakukan hal-hal iseng yang mungkin di masa datang akan kamu sesali, tindakan iseng yang saya kira tidak akan berdampak apa-apa ternyata malah membawa saya menjalani operasi minor dan berbuah dua jahitan, jahitan kedua yang saya terima setelah jahitan pertama ketika saya melahirkan dulu.

Dan walau quote nya ga nyambung, tapi ada satu status teman di fb yang ingin saya tulis disini, sekedar mengingatkan saya (dan anda yang membaca blog saya-kalo ada :P )

Never judge people, because you don’t have any idea what they’ve been through”

IMG_0812

disturbing picture, as a reminder for me not to do the same mistake again in the future

Hiroshima, the re-born city (Part 3-Peace Memorial Museum)

Setelah tersalip oleh beberapa postingan lain, akhirnya muncul juga semangat untuk menyelesaikan postingan tentang Hiroshima.

Setelah mengunjungi Miyajima island, kami kembali ke pusat kota Hiroshima. Kali ini kami menginap di sebuah hostel tak jauh dari Hiroshima station. Hari terakhir di Hiroshima kami berkeliling kota Hiroshima, mengunjungi tempat-tempat bersejarah yang tersisa dari Perang Dunia kedua dimana Hiroshima di-bom atom oleh US pada pukul 08.15, tanggal 6 Agustus 1945.

Untuk mengelilingi kota, kami menaiki trem khas Hiroshima, hiroden, menuju ke Hiroshima castle. Trem ini unik karena relnya terletak di tengah-tengah jalan. Beberapa trem merupakan trem jadul, namun beberapa trem lainnya yang beroperasi telah menggunakan trem yang lebih modern.

hiroden

hiroden

Tujuan pertama kami adalah Hiroshima castle. Untuk menuju castle ini kami harus berjalan sekitar 20 menit-an dari halte hiroden terdekat. Untungnya kami punya map reader yang dapat diandalkan, sehingga kami cukup mengekor saja di belakangnya. Hehe…

hiroshima castle

hiroshima castle

27

Karena keterbatasan waktu  dan dana, kami tidak masuk ke dalam Hiroshima castle, hanya berkeliling di sekitar castle sambil foto-foto :P kemudian kami berjalan kaki menuju ke Atomic bomb dome (A-bomb dome).

A-bomb dome

A-bomb dome

A-bomb dome atau yang juga dikenal dengan Hiroshima Peace Memorial dulunya adalah Industrial promotion hall. Saat atomic bomb dijatuhkan di Hiroshima, gedung ini menjadi salah satu yang terkena dampak parah. Gedung ini merupakan sedikit peninggalan yang tersisa dari bom atom yang memporakporandakan Hiroshima. A-bomb dome saat ini menjadi salah satu dari UNESCO’s world heritage untuk mengenang tragedi kemanusiaan yang diakibatkan oleh bom atom.

31

Di seberangnya A-bomb dome terdapat Children’s Peace Monument. Monumen ini dibangun untuk mengenang seorang anak kecil bernama Sadako  Sasaki yang meninggal karena leukimia yang disebabkan radiasi bom atom. Ketika ia sakit, ia membuat origami burung bangau khas Jepang, yang diyakini bahwa satu origami menandakan satu keinginan kita akan terwujud. Keinginan Sasaki adalah agar tidak ada lagi perang nuklir di dunia, dan kedamaian di dunia. Sayangnya sebelum dia melipat seribu origami, dia meninggal. Tergerak oleh cerita ini, hingga saat ini banyak sekali origami burung bangau yang dikirimkan anak-anak dari berbagai penjuru dunia yang dipajang di sekitar monumen ini sebagai bentuk harapan anak-anak untuk kedamaian dunia, sebagaimana yang dicita-citakan Sasaki.

30

Kami juga menyempatkan diri mengunjungi pusat keramaian di Hiroshima, Hondori. Hondori sendiri merupakan pusat perbelanjaan dan entertainment, jadi disini kami hanya berkeliling dan mampir ke beberapa toko untuk membeli oleh-oleh makanan khas Hiroshima.

Kami mengunjungi Hiroshima diawal musim panas, sehingga udara sudah terasa cukup panas. Kami kemudian beristirahat sejenak dan sholat zuhur di taman seberang A-bomb dome. Dari taman ini, kami dapat melihat A-bomb dome di hadapan, serta beberapa orang yang menyusuri sungai didepan A-bomb dome dengan menggunakan kapal wisata.

32

Tampaknya taman ini akan makin cantik saat musim semi tiba, ketika pohon sakura menampakkan bunganya. Tapi, duduk di bangku tamannya di musim panas pun tak mengapa, terasa sangat menyenangkan.

33

Setelah melepas lelah, kami lanjutkan perjalanan menuju Hiroshima Peace Memorial Museum. Dalam perjalanan dari A-bomb dome menuju Peace Memorial Museum, kami menjumpai cenotaph for the A-bomb victims, sebuah kubah yang diperuntukkan sebagai kuburan bagi semua korban bom atom. Setiap tahunnya, disini digelar upacara peringatan peristiwa bom atom, dimana tepat pada pukul 08.15 semua akan mengheningkan cipta mengenang tragedi tersebut.

34

Selepas mengunjungi cenotaph, kami pun masuk ke dalam Hiroshima Peace Memorial Museum. Tiket masuknya sebesar 50 yen (saja), namun museum ini sangatlah menarik, dan menyedihkan. Ini satu-satunya museum yang membuat saya menangis sepanjang eksplorasi. Dimulai dengan film pendek yang menceritakan peristiwa pemboman, lalu gambar-gambar yang menceritakan kronologis perang hingga bom atom yang meledak. Terdapat pula transkrip surat menyurat antarpemimpin negara terkait perang dunia ke dua, termasuk pemilihan Hiroshima sebagai tempat bom dijatuhkan. Kemudian, ditunjukkan pula berbagai kerusakan dahsyat yang terjadi setelah bom dijatuhkan, kulit penduduk yang melepuh, luka bakar yang parah, hingga berbagai kondisi kematian yang menyedihkan diakibatkan oleh bom atom.

35

Hiroshima Peace Memorial Museum

Hiroshima Peace Memorial Museum tampak depan

Hiroshima Peace Memorial Museum tampak depan

Berakhirnya kunjungan kami di Hiroshima Peace Memorial Museum ini menandakan berakhirnya pula trip kami di Hiroshima. Rasanya masih ingin mengelilingi kota ini lebih lama lagi, betapa Hiroshima merupakan kota kecil yang nyaman dan menenangkan. Setelah Hiroshima diporakporandakan oleh bom atom, diprediksi bahwa tidak akan ada tanaman yang dapat tumbuh disini selama sekian puluh tahun. Namun ternyata hanya beberapa waktu setelah bom atom, sebuah tunas kembali muncul di kota Hiroshima, seakan menjadi penanda bagi masyarakatnya untuk bangkit dari keterpurukan dan membangun kota Hiroshima kembali. Hiroshima kini menjadi kota yang terlahir kembali, the re-born city, yang berhasil melangkah maju  dan menjadikan sejarah kelam masa lalu itu sebagai titik balik untuk bangkit. It was a really memorable and unforgettable experience to pay a visit to Hiroshima during my stay in Japan.

Sayonara, Hiroshima :)

IMG_3356

Cupnoodles Museum Yokohama

I have many stories to be written here, my Hiroshima trip has not finished yet. In addition, the other Kyoto and Osaka trip with kakak have not been posted. There are also many other things that I want to write, demo, jikan ga arimasen. But I really want to write our short trip today to visit Cupnoodles Museum.

IMG_0005

Cupnoodles Museum is located about 15 minutes walk from Sakuragicho station, Yokohama city. It takes only 15 minutes by subway from our dorm to Sakuragicho station. Actually, I planned to bring kakak outside today, since from Monday-Friday she went to the daycare, and yesterday it was raining the whole day, thus we were only staying at home and she got bored and sleepy, haha… So, I promised myself that if the weather will be fine on Sunday, I’ll take her outside.

Thanks God cos the weather was nice on Sunday so I could execute my plan. I didn’t have any idea where to go, but then the idea of Cupnoodles Museum just came up on my mind. To be honest, I never been to Cupnoodles Museum although it is quite near from my dorm. I ever been there before but it was closed on Tuesday.

Okay, enough about the background story. So we went to Cupnoodles Museum. The museum open from Wednesday to Monday at 10.00-18.00. It is closed every tuesday. The entrance fee is 500 yen, but for pre-school children will be free of charge. When we bought the ticket, the staff asked whether we want to join the activity in My Cupnoodles Factory. The activity is create our own cupnoodles’ package. The fee for this activity is 300 yen and we should reserve the time for this activity. So we made a reservation for this activity an hour later.

IMG_9954IMG_9956

Then we entered the museum. We can see the history of noodles in Japan, and many variety of noodles around the world. There was also the famous and most delicious mie goreng from Indonesia, which makes me proud to be an Indonesian :)

IMG_9972

noodles are everywhere

On the third floor, we saw a lot of people were busy designing their own cups for cupnoodles. However, since it was not yet our reservation time, so we went to the fourth floor where the cupnoodles park is located.

they are all designing their package

they are all designing their package

IMG_9975

The cupnoodles park was simply a playground for small children with the idea of making a cupnoodles. So the children climbed the rope, then slided as if they were going to enter a boiling water. Then they entered a small tunnel as if they were rotated by the machine. Lastly, they slided inside the cupnoodles boxes as if they were ready to be packed. Well, I cannot describe it  very well because I couldn’t take any picture inside. The admission fee for cupnoodles park is 300 yen for 30 minutes.

you can enjoy some noodle-based dishes inside

you can enjoy some noodle-based dishes inside

After playing in the park, then we queued for creating our own cupnoodles’ package. The queue was long because it seems like many people were willing to design their own package. Since me and kakak didn’t have a good sense of art *haha…* so we drew a-not-so-nice pictures and it didn’t take a long time for us to finish our drawing, unlike the others.

IMG_9991

the ingredients for cupnoodles

the ingredients for cupnoodles

plastic wrapping machine

plastic wrapping machine

After finishing the drawing, we queued again to process the cupnoodles. The staff asked us to bring our package, then the staff filled it with instant noodles. Then, the staff asked which flavour of noodles that we like, and asked us to choose four ingredients to put inside our cupnoodles. The cupnoodles then wrapped inside a plastic bag and ready to be carried away.

IMG_9998

this is the final result of our own-design cuonoodles’ package

Kakak kept asking me to cook the cupnoodles at home, but I told her that we cannot cook it because it contain some of not halal ingredients. She was a bit dissapointed, because it seems like she really expect to eat the cupnoodles. In addition, she is actually a noodle lovers, remember about the fried noodles that I cooked before? haha…gomen ne kakak :P

There is a small souvenir shop inside cupnoodles museum, but we didn’t buy anything. Well, I kinda interested with the cupnoodles magnet that is being sold there, but I prefer to go back there some other day and just go directly to the shop.

Anyway, it was a nice experience to spend the half day in cupnoodles museum. I had a lot of fun with kakak especialy inside cupnoodles park. I hope she also enjoyed the short trip today.

Mie goreng

Resep ini pertama kali diajarin oleh salah seorang teman di Ooka, namanya mba Ratna. Beliau ini emang jago masak dan dulu kita sering kebagian icip-icip. Nah, mie goreng ini jadi menu andalan kalo pas ada party, dan teman-teman dari negara lain juga suka menikmatinya. Tapi, persiapannya sendiri sebenernya ribet karena variasi bahan di dalamnya banyak, jadilah untuk konsumsi pribadi saya sesuaikan sendiri dengan stok yang ada di kulkas :)

IMG_9925

Mie Goreng

Bahan:

  • 300 gr Mie kuning basah
  • Kecap manis secukupnya
  • 2 butir telur, dikocok lepas
  • 3 siung bawang putih, digeprek
  • 1 buah wortel, diiris korek api
  • 1/4 buah kol, diiris kasar
  • 200gr ayam, kulit dan lemaknya dipisahkan, dagingnya diiris dadu
  • Garam secukupnya
  • Merica bubuk secukupnya

Cara membuat:

  • Mie kuning dicampur dengan kecap manis, aduk rata lalu sisihkan.
  • Tumis kulit dan lemak ayam hingga keluar minyaknya. Sisihkan
  • Telur digoreng orak arik, sisihkan.
  • Tumis bawang putih dengan menggunakan minyak ayam, lalu sisihkan bawang putihnya.
  • Masukkan ayam dan wortel, masak hingga ayam berubah warna.
  • Tambahkan mie kuning.
  • Masukkan garam dan merica bubuk.
  • Tambahkan kol.
  • Masak hingga matang.
  • Angkat dan taburkan telur orak arik dan bawang goreng diatasnya.
  • Sajikan.

Kakak paling doyan makan mie dan reaksinya ketika makan mie goreng ini adalah “oishii bunda, makasih ya bunda” dan makannya pun lahap pisan :)  Senengnya kalo liat anak doyan makan :)

I love you kakak :)

 

Fussili Tuna Tomato

Weekend pagi berasa pengen makan pasta, dan kebetulan punya stok tuna, fussili dan pasta tomat. Browsing resep yang pake tuna dan tomato tapi koq banyakan yang ngasih resep fussili tuna pedas. Yo wis akhirnya nyampur2 bahan sendiri aja, jadinya malah kayak sausnya spagheti tapi instead of minced beef, malah pake tuna. Hehehe… tapi…Alhamdulillah karena rasanya enak euy, seneng banget pas kakak nyobain dan komentar “hmmm..oishii bunda..”, rasanya ingin terbang ke langit ke tujuh mendengar pujiannya :)

Fussili Tuna Tomato

IMG_8848

Bahan:

  • Fussili secukupnya
  • 1 buah tuna kaleng
  • 1/2 kaleng pasta tomat, atau 1 buah tomat segar di cacah
  • 1/2 kaleng jamur kancing diiris atau jamur kancing kalengan kalo mau praktis
  • 1 siung bawang bombay, iris dadu
  • 2 siung bawang putih
  • daun basil secukupnya
  • oregano secukupnya
  • garam dan gula secukupnya
  • merica hitam bubuk
  • keju parmesan untuk taburan

Cara membuat:

  • Rebus fussili dengan satu sdm minyak goreng, tunggu hingga lembut lalu tiriskan.
  • Untuk saus, tumis bawang bombay dan bawang putih hingga wangi.
  • Kemudian, tambahkan tuna kaleng dan pasta tomat. Aduk rata.
  • Terakhir, masukkan jamur kancing.
  • Tambahkan garam, gula, basil dan oregano secukupnya.
  • Masak hingga semua bahan matang.

Penyajian:

  • ambil fussili secukupnya, tambahkan saus tuna tomato diatasnya, lalu taburi dengan keju parmesan.

Hiroshima, the re-born city (Part 2-Miyajima Island)

Continue from the first part

16

floating Otorii gate dari kejauhan

Setelah menikmati kintai-kyo bridge, kami menuju Miyajima island. Untuk menuju ke pulau kecil ini kami menaiki feri sekitar 15 menit. Salah satu point of interest disini adalah Itsukushima shrine dan floating otorii gate nya yang berada di bawah level air laut sehingga ketika air sedang tinggi, maka gate ini akan mengapung dan dapat dilewati kapal.

Dear deers

Dear deers

Ketika kami sampai di Miyajima island, kami disambut penghuni lokal pulau, rusa! yup, banyak sekali rusa yang dibiarkan bebas berkeliaran sepanjang jalan, dan rusa-rusa ini jinak, dapat didekati dan diajak foto bareng :P awalnya bermain dengan rusa cukup menyenangkan, namun lama-kelamaan annoying karena mereka mengikuti kita terus dan kadang bisa jadi galak. Si rusa mendekati teman kami yang membawa kresek lalu mencoba memakan kreseknya! OMG, rusa2 ini makan kantong kresek, kesian euy :( kemudian, kami meletakkan kresek2 kami di atas tempat yang lebih tinggi, namun si rusa masih tetap berusaha menjangkau kresek2 kami tersebut, kantong kertas saya juga ikutan robek terkena amukan si rusa…poor deers :( semoga perutnya baik2 aja deh makan kresek dan kertas.

IMG_3250

savory oysters

Salah satu incaran kami di Miyajima island adalah mencicipi oysternya yang famous karena kelezatannya. Kami lalu mampir ke salah satu stall yang menjual oyster bakar. Satu serving plate isinya dua oyster (saja) dengan harga 500 yen. Tapi….tak salah mencicipi oyster ini karena rasanya totemo oishii! enak banget!!si oysterny fresh dan segar, rasanya pengen nambah lagi :) kudu n wajib nyobain si oyster bakar ini deh kalo mampir Miyajima island.

Karena masih penasaran dengan sajian oyster, maka kami pun mencoba sate oyster yang dijajakan di stall lain, meskipun rasanya masih oishii tapi kalah oishii dengan si oyster bakar yang kami coba sebelumnya.

Oiya, setiap minggu kedua bulan Februari, ada Oyster festival dimana kita bisa mendapatkan oyster dengan harga murah disini. Jadi, jika penasaran ingin makan oyster dengan harga murah dan jumlah banyak, mungkin bisa menyengaja kesini pada bulan Februari.

various momiji manju

various momiji manju

IMG_3401

momiji manju khas Miyajima island

Souvenir khas MIyajima Island adalah kue momiji manju, kue ini sejenis wafel yang diberi filling (cokelat, keju, red bean, custard, etc) dan berbentuk seperti mapple leaf. Banyak toko yang menjual momiji manju namun teman kami merekomendasikan satu toko yang memang lebih rame dibanding yang lainnya. Selain itu, souvenir khas Miyajima island lainnya adalah….rice scoop(Shakushi) alias centong nasi! Ketika saya tiba di Miyajima island, saya cukup surprise melihat berbagai toko menjual wooden rice scoop ini, bahkan hello kitty store disana pun menjadikan kitty dengan rice scoop sebagai figurin diluar tokonya. Dan disini juga terdapat rice scoop berukuran raksasa. Sayangnya saya tak membeli rice scoop ini karena saat itu saya berpikir, centong nasi mah udah punya, beli di daiso.

17

Ketika saya mencari tahu sejarah rice scoop ini di kemudian hari, saya menyesal tak menyempatkan membeli wooden rice scoop handmade by local islanders. Jadi, menurut sejarah, seorang pendeta yang datang ke Miyajima bersimpati terhadap kesulitan yang dihadapi penduduk lokal sana untuk bertahan hidup. Kemudian ia memutuskan untuk mengajari penduduk lokal membuat handicraft berupa centong nasi, yang bentuknya menyerupai alat musik tradisional Jepang, Biwa.

Floating otorii gate

Floating otorii gate

Setelah membeli oleh-oleh, kemudian kami menuju point of interest utama dari Miyajima island, yakni Itsukushima shrine dan floating otorii gate nya. Saat gelombang air laut sedang rendah, pengunjung dapat berdiri di bawah otorii gate ini, namun justru daya tarik utamanya ketika air pasang dan otorii gate ini tenggelam oleh air laut. Saat kami mengunjungi otorii gate ini langit mulai berganti malam, sehingga warna merah otorii gate terlihat kontras diatas laut, terlebih, tak lama ada sebuah perahu lokal yang melintasi tengah-tengah gate. Pemandangan yang sangat menarik.

23

24

Selain Itsukushima shrine, terdapat pula Toyokuni shrine ,sebuah shrine Buddha yang strukturnya terbuat dari kayu tua, dan sering disebut pula Senjokaku, jika diterjemahkan kurang lebih berarti sebuah ruangan besar yang terdiri dari seribu tatami, untuk menunjukkan besarnya struktur bangunan ini. Di depan Toyokuni shrine terdapat five-storied pagoda, sebuah pagoda dengan desain khas Jepang namun terdapat detail Chinese didalamnya.

five-storied pagoda

five-storied pagoda

Karena kami datang kesini sudah sore, sehingga kami tak sempat menaiki Miyajima ropeway yang membawa pengunjung menuju Mt Misen, puncak tertinggi di Miyajima island. Harga tiket ropewaynya 1800 yen, relatif mahal, tapi sebanding sih dengan pemandangan yang disajikan, karena dari atas ropeway pengunjung dapat melihat Hiroshima dan pulau-pulau kecil disekelilingnya.

22

Although we had a very short time to visit the whole island, but it was a very memorable experience and we will not forget our adventures in Miyajima island, we will not forget the savory taste of oysters, the majestic floating otorii gate, the experience with local deers, and many other things.

sayonara, Miyajima island

sayonara, Miyajima island…

Hiroshima, the re-born city (Part 1- a Visit to Hiroshima University and Iwakuni)

Tak pernah punya target untuk mengunjungi Hiroshima, karena letaknya yang nun jauh di selatan Jepang. Dan saya yakin wisatawan yang sengaja datang ke Hiroshima either traveler lokal Jepang atau memang benar-benar traveler yang niat menjelajah kesini. Saat sedang hectic di semester dua yang lalu, sebuah tawaran datang untuk ikut trip ke Hiroshima. Awalnya tak yakin ingin ikut, mengingat tugas-tugas menumpuk, namun kemudian saya berpikir, kapan lagi bisa ada kesempatan ke Hiroshima, kemungkinan tahun kedua ketika kakak sudah disini saya tak akan bisa menyempatkan diri mengunjungi Hiroshima. Jadi akhirnya tawaran tersebut saya iyakan. Kami menggunakan willer express, untuk tiket PP totalnya 15,440 yen. Lumayan mahal di ongkos sih, tapi Alhamdulillah karena teman-teman saya punya teman di Hiroshima university, jadi kami menginap semalam disana. Total trip kami selama 3 hari 2 malam, semalam menginap di rumah teman dan semalam berikutnya menginap di Hana hostel dengan tarif 3000 yen permalam.

Hirodai

Hirodai

Kami berangkat dari Kawasaki sekitar pukul setengah 9 malam dan tiba keesokan harinya di Hiroshima University sekitar pukul 09.30.

03

kata teman-teman Hirodai, ini landmarknya Hirodai

kata teman-teman Hirodai, ini landmarknya Hirodai

Setibanya di Hiroshima university (Hirodai) kami menyempatkan diri berkeliling menikmati suasana pagi di Hirodai. Sungguh, saya sudah cukup bersyukur mempunyai kampus rindang dan sejuk di Yokokokudai, tapi saya envy sangat melihat kampus Hirodai yang sangat indah, dengan kontur tanah berbukit-bukit serta danau yang asri membuat saya betah berada disana.

04

05

Sepuas menikmati kampus, kami langsung menuju rumah teman dan Alhamdulillah disuguhi makan siang yang mengenyangkan. Hari pertama ini itinerary kami hanya ke Hirodai dan menikmati Festival ASEAN yang diikuti oleh teman-teman Indonesia di Hirodai. Selepas festival, kami diajak ke sebuah taman yang saya lupa namanya, sayangnya karena hujan jadi malas mengeluarkan kamera dan tak ada foto taman ini :(

Tak ketinggalan kami menikmati menu khas Hiroshima, okonomiyaki Hiroshima’s style. katanya yang membedakannya dengan okonomiyaki lain adalah okonomiyaki Hiroshima’s style ini didalamnya ditambah dengan mie.

Okonomiyaki Hiroshima's style

Okonomiyaki Hiroshima’s style

Hari kedua, kami langsung menuju ke Iwakuni, southeastern part of Yamaguchi prefecture sebenarnya. Disini terdapat Kintai-kyo bridge, jembatan kayu yang strukturnya sangat unik dan menjadi salah satu tourist destination di seputaran Hiroshima.

Kintai-kyo bridge

Kintai-kyo bridge

Jembatan ini terbentang diatas Nishiki river, sungainya sendiri dangkal, dan beberapa orang memancing ditengahnya. Konon Kintai-kyo bridge ini dibangun tanpa menggunakan paku!

"infinity"

“infinity”

Selepas makan siang di pinggir Kintai-kyo bridge, kami melintasi Kikko park, taman cantik yang sebenarnya merupakan bagian dari kediaman penguasa lokal pada zaman Edo.

Kikko park

Kikko park

samurai statue

samurai statue

Sayangnya karena keterbatasan waktu kami tak sempat menjelajah taman ini, dan langsung menuju ropeway yang membawa kami ke puncak bukit, tepatnya menuju Iwakuni castle.

Iwakuni castle from far away

Iwakuni castle from far away

closer look (still from far away)

closer look (still from far away)

nah ini dia penampakan Iwakuni castlenya

nah ini dia penampakan Iwakuni castlenya

Dari Iwakuni castle kami dapat melihat pemandangan Hiroshima dan sekitarnya hingga jauh, kintai-kyo bridge juga terlihat dengan sempurna dari atas sini.14

13

12

Dapat terlihat pula beberapa pulau kecil di sekitar Hiroshima, salah satunya akan kami kunjungi kemudian, Miyajima island.

to be continued…