How’s life?

Been more than two months since #ourlifeinjapan began, with me and kakak as the main characters.

Alhamdulillah cos kakak is able to get accepted into the daycare near our dorm that I applied before. So, everyday from monday-friday, start around 8.30-18.00 she goes to the daycare. The monthly payment for her daycare is ¥2100, relatively cheap compared to her previous daycare.

Everyday I wake up early and prepare a simple breakfast for us, including bento for my lunch at school. Kakak’s lunch and afternoon snack are provided by the daycare, and I only need to pay ¥2000 per month. So, in total I pay ¥4100 per month for her daycare. Every morning is a drama for both of us. Sometimes it is easy to wake her up, but many times she is soooo lazy to wake up from bed. Especially since the weather is getting colder and the night is getting longer. 6 am is still quite dark to start the day now.

I think God created her for me in order to make me understand more about patience, patience and patience. Everyday is a morning rush, on the one hand, I act as a busy mommy who always want her to finish her breakfast quickly, brush the teeth quickly, wash the face quickly, and change the clothes also quickly. On the other hand, she acts as an unhurried daughter, who sometimes intentionally do everything in a veeery slow pace in order to make her mom mad or yell (yeah, I yelled a lot!) to her. Then she will laugh to see my angry face, hmmffffttt…this little lady…

Well, after a busy morning ended with her spending the day in daycare and I spend the day in school, we meet again at night when I picked her up from the daycare. Along the way back from daycare, we usually talk about her activities for a day, the lunch and snack, and another little chat.

Arrive back at dorm, we have our dinner, take a bath, read a book, and sleep.

And the routine will begin again the next day. Same old and busy routine except for weekend. However, I will miss this routine later when I already going back to work. The opportunity to prepare her to school, accompanying her to have breakfast, send her off to school and say “have a nice day” and picked her up from school.

Well, that’s the consequence of a choice and I already made my own choice. However, I hope later she will not forget our life in here, our precious moments that hopefully will strengthen our mommy-daughter relationship, or if she will forget it, at least when she read this she will remember those moments again.

IMG_0901

ready for daycare during one rainy day

Low Fat Brownies

Yang enggak low fat :p

Berhubung masih punya stok cocoa powder buanyak, jadilah mencari alternatif resep brownies yang pake cocoa powder instead of dcc. Tertambatlah di resep dari joy of baking ini. Judulnya sih low fat brownies, karena resepnya pake natural buttery spread instead of butter or margarine. Nah, tapi  berhubung saya ga punya natural buttery spread ini, jadilah pake margarine blue band, makanya jadinya bukan low fat brownies nih :D

brownies2

Low Fat Brownies

by Stephanie Jaworski

source: Joy of Baking

Ingredients:

  • 2/3 cup (135 grams) granulated white sugar
  • 1/3 cup (75 grams) soft natural buttery spread
  • 1 teaspoon pure vanilla extract
  • 1 large egg
  • 1/3 cup (45 grams) all-purpose flour
  • 1/3 cup (35 grams) dutch-processed cocoa powder
  • 1 teaspoon baking powder (saya ga punya stok BP jd skip)
  • 1/4 cup (60 ml) light sour cream (saya pake yoghurt)

Step by step:

  • Preheat oven to 350 degrees F(177 degrees C) and place the rack in the center of the oven. Spray an 8 inch (20 cm) square pan with a nonstick vegetable cooking spray.
  • In the bowl of your electric mixer or with a hand mixer, beat the sugar and buttery spread until smooth. Beat in the vanilla extract and egg.
  • In a small bowl, whisk together the flour, cocoa powder, and baking powder. Fold this flour mixture into the sugar and buttery spread mixture. stir in the sour cream.
  • Pour into the prepared pan and smooth the top. Bake for about 15-20 minutes, or until the edges start to pull away from the sided of the pan and the center of the brownies is still slightly soft (do not over bake or the brownies will be too dry).
  • remove from oven and place on a wire rack to cool. These brownies can be frozen for a month or two.
  • makes 16 brownies.

PS: resep ini menghasilkan tekstur brownies yang gooey, and although it is written that the brownies can be frozen for a month or two, but in fact I wasn’t able to do so, since the brownies already finished by both of us :p  well, for a very simple recipe, this one fits my taste well. Will execute it again later.

Menukar yen yang robek di Jepang

Another new experience to interact with Japanese people in Nihongo, LoL.

Jadi, ceritanya salah seorang teman di Indonesia pernah pesan barang dari sini dan dibayar di Indonesia pake yen. Nah, yen ini dimasukkan dalam amplop yang isinya selembar seribuan dan beberapa koin. Dikarenakan ketidaksengajaan, saat membuka amplopnya, seribu yen nya ikut tersobek dua. Lalu, disiasati dengan mengisolasi uang tersebut, karena berkaca pada pengalaman di Indonesia, uang kertas yang robek masih diterima di masyarakat umum sepanjang di isolasi, hehe..

IMG_0822

Lalu, ketika uang tsb dibawa ke japan dan hendak saya masukkan ke tabungan via atm, ternyata mesin atm menolak, haha..dia bisa mendeteksi mana uang yang bagus dan mana uang robek yg diisolasi ternyata ya..dua kali saya coba memasukkan uang ke atm tapi dua2nya ditolak.

Oke, saya dah menebak sih sebenernya, cuma penasaran aja *ngeles* karena memang setau saya disini aturannya untuk uang yang robek dapat ditukar melalui bank terdekat. Karena saya malas berkomunikasi dengan bahasa jepang (lebih ke ga ngertinya sih) makanya saya coba short cut melalui atm tadi.

Akhirnya, saya niatkan mencoba menukarkan yen tsb lewat bank. Sebelumnya cari di gugel translate dulu apa bahasa jepangnya robek dan menukar, LoL.
Dengan berbekal bahasa jepang seadanya tsb, staff bank nya mengerti dan katanya bisa ditukar, Alhamdulillah..saya hanya mengisi form sederhana yang berisi nama dan no hp serta jumlah uang yang ditukar.
Tak sampai 5 menit, staff bank tsb memanggil saya dan memberikan uang seribu baru, tanpa further confirmation seperti apa alasan saya sehingga uang tsb robek, dll. Wah, prosedurnya sangat mudah dan saya mendapatkan uang yen mulus.

Alhamdulillah..

Iseng berbuah jahitan

Pernah ga sih menggigit-gigit bibir bagian dalam? biasanya kebiasaan ini dilakukan seseorang yang sedang grogi, sedang berpikir, atau sekedar iseng. Nah, saya masuk kategori yang ketiga. Suatu ketika, sekitar tiga bulan yang lalu, saya iseng mulai menggigiti bibir bagian dalam. Karena judulnya iseng, jadilah konsekuensinya di bibir yang sering digigit tersebut tumbuh sariawan, berupa benjolan kecil yang didalamnya berisi seperti cairan.

Karena muncul sariawan, akhirnya saya pun menghentikan kebiasaan ini, well, sesekali kalo kelupaan masih suka gigit-gigit bibir bagian dalam ini sih :p tapi ternyata si benjolan tak kunjung hilang. Saya coba obati dengan meminum minuman bervitamin C dan makan buah yang mengandung vitamin C dengan harapan si sariawan bakal kempes dan hilang, tapi semuanya gagal. Benjolan yang semula kecil malah membesar karena keteledoran saya yang suka lupa untuk tidak menggigit bibir.

Tiga bulan berlalu, benjolan tersebut tak kunjung hilang. Jujur saya mulai merasa khawatir dengan sariawan ini. Nah, kebetulan semenjak dua bulan ini saya juga rajin ke dokter gigi dalam rangka memperbaiki gigi yang bolong-bolong, haha…lalu, sensei saya mengamati benjolan ini, dan dengan keterbatasan istilah kedokteran dan keterbatasan bahasa diantara kami, maka dia pun menjelaskan bahwa benjolan ini disebut salivary glands, intinya seperti sebuah kelenjar yang tumbuh di dalam bibir, salah satu penyebabnya karena kebiasaan menggigit bibir ini.

Sensei lalu menyarankan agar kelenjar ini dipotong, hal yang membuat saya jadi khawatir, karena artinya saya perlu melakukan “operasi” minor. Alhamdulillah karena sensei bisa melakukannya, dan hanya perlu sekitar 30 menit katanya. Yang lebih melegakan karena dia bilang bahwa kelenjar ini NOT BAD, fyuuuh.. lumayan lega.

Lalu, di hari yang ditentukan, saya pun menerima suntikan bius di bibir lalu menjalani operasi pemotongan kelenjar tersebut. Karena sudah dibius, saya jadi tidak merasakan apa-apa, namun saya tak ingin membuka mata dan melihat berbagai peralatan di meja sensei. Cukuplah telinga saya mendengar suara gunting, dan entah alat apalagi yang dipakai sensei.

Dan kurleb tiga puluh menit, selesailah pengangkatan kelenjar tersebut. Bibir saya dijahit dua jahitan, dan kata sensei minimal seminggu jahitannya baru akan dilepas. Lalu sensei menunjukkan dua kelenjar yang diangkat dari bibir saya, yang dibagian dalam kecil dan lebih kenyal, yang dibagian luar kelenjarnya lebih besar dan lebih keras. Dan yang bikin takut adalah ternyata banyak darah yang keluar ketika pengangkatan kelenjar ini, menilik dari jumlah kapas berdarah yang ada di meja sensei.

Sensei kemudian meresepkan antibiotik yang harus diminum dan pain killer in case of pain after the anesthesia gone.

Nah, menebus obat di apotek juga merupakan hal yang baru untuk saya, sebelumnya ga pernah beli obat di apotek. Disini kunjungan pertama saya harus mengisi formulir yang intinya menanyakan riwayat alergi obat dll, sebagai referensi mereka dalam memberikan obat. Mereka juga meminta insurance card saya. Lalu, setelah menunggu beberapa saat, salah seorang apoteker akan memberikan obatnya dan menjelaskan cara penggunaannya. Alhamdulillah untuk obat yang saya konsumsi saya hanya mengeluarkan 600 yen.

Well, lesson learned adalah jangan melakukan hal-hal iseng yang mungkin di masa datang akan kamu sesali, tindakan iseng yang saya kira tidak akan berdampak apa-apa ternyata malah membawa saya menjalani operasi minor dan berbuah dua jahitan, jahitan kedua yang saya terima setelah jahitan pertama ketika saya melahirkan dulu.

Dan walau quote nya ga nyambung, tapi ada satu status teman di fb yang ingin saya tulis disini, sekedar mengingatkan saya (dan anda yang membaca blog saya-kalo ada :P )

Never judge people, because you don’t have any idea what they’ve been through”

IMG_0812

disturbing picture, as a reminder for me not to do the same mistake again in the future

Hiroshima, the re-born city (Part 3-Peace Memorial Museum)

Setelah tersalip oleh beberapa postingan lain, akhirnya muncul juga semangat untuk menyelesaikan postingan tentang Hiroshima.

Setelah mengunjungi Miyajima island, kami kembali ke pusat kota Hiroshima. Kali ini kami menginap di sebuah hostel tak jauh dari Hiroshima station. Hari terakhir di Hiroshima kami berkeliling kota Hiroshima, mengunjungi tempat-tempat bersejarah yang tersisa dari Perang Dunia kedua dimana Hiroshima di-bom atom oleh US pada pukul 08.15, tanggal 6 Agustus 1945.

Untuk mengelilingi kota, kami menaiki trem khas Hiroshima, hiroden, menuju ke Hiroshima castle. Trem ini unik karena relnya terletak di tengah-tengah jalan. Beberapa trem merupakan trem jadul, namun beberapa trem lainnya yang beroperasi telah menggunakan trem yang lebih modern.

hiroden

hiroden

Tujuan pertama kami adalah Hiroshima castle. Untuk menuju castle ini kami harus berjalan sekitar 20 menit-an dari halte hiroden terdekat. Untungnya kami punya map reader yang dapat diandalkan, sehingga kami cukup mengekor saja di belakangnya. Hehe…

hiroshima castle

hiroshima castle

27

Karena keterbatasan waktu  dan dana, kami tidak masuk ke dalam Hiroshima castle, hanya berkeliling di sekitar castle sambil foto-foto :P kemudian kami berjalan kaki menuju ke Atomic bomb dome (A-bomb dome).

A-bomb dome

A-bomb dome

A-bomb dome atau yang juga dikenal dengan Hiroshima Peace Memorial dulunya adalah Industrial promotion hall. Saat atomic bomb dijatuhkan di Hiroshima, gedung ini menjadi salah satu yang terkena dampak parah. Gedung ini merupakan sedikit peninggalan yang tersisa dari bom atom yang memporakporandakan Hiroshima. A-bomb dome saat ini menjadi salah satu dari UNESCO’s world heritage untuk mengenang tragedi kemanusiaan yang diakibatkan oleh bom atom.

31

Di seberangnya A-bomb dome terdapat Children’s Peace Monument. Monumen ini dibangun untuk mengenang seorang anak kecil bernama Sadako  Sasaki yang meninggal karena leukimia yang disebabkan radiasi bom atom. Ketika ia sakit, ia membuat origami burung bangau khas Jepang, yang diyakini bahwa satu origami menandakan satu keinginan kita akan terwujud. Keinginan Sasaki adalah agar tidak ada lagi perang nuklir di dunia, dan kedamaian di dunia. Sayangnya sebelum dia melipat seribu origami, dia meninggal. Tergerak oleh cerita ini, hingga saat ini banyak sekali origami burung bangau yang dikirimkan anak-anak dari berbagai penjuru dunia yang dipajang di sekitar monumen ini sebagai bentuk harapan anak-anak untuk kedamaian dunia, sebagaimana yang dicita-citakan Sasaki.

30

Kami juga menyempatkan diri mengunjungi pusat keramaian di Hiroshima, Hondori. Hondori sendiri merupakan pusat perbelanjaan dan entertainment, jadi disini kami hanya berkeliling dan mampir ke beberapa toko untuk membeli oleh-oleh makanan khas Hiroshima.

Kami mengunjungi Hiroshima diawal musim panas, sehingga udara sudah terasa cukup panas. Kami kemudian beristirahat sejenak dan sholat zuhur di taman seberang A-bomb dome. Dari taman ini, kami dapat melihat A-bomb dome di hadapan, serta beberapa orang yang menyusuri sungai didepan A-bomb dome dengan menggunakan kapal wisata.

32

Tampaknya taman ini akan makin cantik saat musim semi tiba, ketika pohon sakura menampakkan bunganya. Tapi, duduk di bangku tamannya di musim panas pun tak mengapa, terasa sangat menyenangkan.

33

Setelah melepas lelah, kami lanjutkan perjalanan menuju Hiroshima Peace Memorial Museum. Dalam perjalanan dari A-bomb dome menuju Peace Memorial Museum, kami menjumpai cenotaph for the A-bomb victims, sebuah kubah yang diperuntukkan sebagai kuburan bagi semua korban bom atom. Setiap tahunnya, disini digelar upacara peringatan peristiwa bom atom, dimana tepat pada pukul 08.15 semua akan mengheningkan cipta mengenang tragedi tersebut.

34

Selepas mengunjungi cenotaph, kami pun masuk ke dalam Hiroshima Peace Memorial Museum. Tiket masuknya sebesar 50 yen (saja), namun museum ini sangatlah menarik, dan menyedihkan. Ini satu-satunya museum yang membuat saya menangis sepanjang eksplorasi. Dimulai dengan film pendek yang menceritakan peristiwa pemboman, lalu gambar-gambar yang menceritakan kronologis perang hingga bom atom yang meledak. Terdapat pula transkrip surat menyurat antarpemimpin negara terkait perang dunia ke dua, termasuk pemilihan Hiroshima sebagai tempat bom dijatuhkan. Kemudian, ditunjukkan pula berbagai kerusakan dahsyat yang terjadi setelah bom dijatuhkan, kulit penduduk yang melepuh, luka bakar yang parah, hingga berbagai kondisi kematian yang menyedihkan diakibatkan oleh bom atom.

35

Hiroshima Peace Memorial Museum

Hiroshima Peace Memorial Museum tampak depan

Hiroshima Peace Memorial Museum tampak depan

Berakhirnya kunjungan kami di Hiroshima Peace Memorial Museum ini menandakan berakhirnya pula trip kami di Hiroshima. Rasanya masih ingin mengelilingi kota ini lebih lama lagi, betapa Hiroshima merupakan kota kecil yang nyaman dan menenangkan. Setelah Hiroshima diporakporandakan oleh bom atom, diprediksi bahwa tidak akan ada tanaman yang dapat tumbuh disini selama sekian puluh tahun. Namun ternyata hanya beberapa waktu setelah bom atom, sebuah tunas kembali muncul di kota Hiroshima, seakan menjadi penanda bagi masyarakatnya untuk bangkit dari keterpurukan dan membangun kota Hiroshima kembali. Hiroshima kini menjadi kota yang terlahir kembali, the re-born city, yang berhasil melangkah maju  dan menjadikan sejarah kelam masa lalu itu sebagai titik balik untuk bangkit. It was a really memorable and unforgettable experience to pay a visit to Hiroshima during my stay in Japan.

Sayonara, Hiroshima :)

IMG_3356

Cupnoodles Museum Yokohama

I have many stories to be written here, my Hiroshima trip has not finished yet. In addition, the other Kyoto and Osaka trip with kakak have not been posted. There are also many other things that I want to write, demo, jikan ga arimasen. But I really want to write our short trip today to visit Cupnoodles Museum.

IMG_0005

Cupnoodles Museum is located about 15 minutes walk from Sakuragicho station, Yokohama city. It takes only 15 minutes by subway from our dorm to Sakuragicho station. Actually, I planned to bring kakak outside today, since from Monday-Friday she went to the daycare, and yesterday it was raining the whole day, thus we were only staying at home and she got bored and sleepy, haha… So, I promised myself that if the weather will be fine on Sunday, I’ll take her outside.

Thanks God cos the weather was nice on Sunday so I could execute my plan. I didn’t have any idea where to go, but then the idea of Cupnoodles Museum just came up on my mind. To be honest, I never been to Cupnoodles Museum although it is quite near from my dorm. I ever been there before but it was closed on Tuesday.

Okay, enough about the background story. So we went to Cupnoodles Museum. The museum open from Wednesday to Monday at 10.00-18.00. It is closed every tuesday. The entrance fee is 500 yen, but for pre-school children will be free of charge. When we bought the ticket, the staff asked whether we want to join the activity in My Cupnoodles Factory. The activity is create our own cupnoodles’ package. The fee for this activity is 300 yen and we should reserve the time for this activity. So we made a reservation for this activity an hour later.

IMG_9954IMG_9956

Then we entered the museum. We can see the history of noodles in Japan, and many variety of noodles around the world. There was also the famous and most delicious mie goreng from Indonesia, which makes me proud to be an Indonesian :)

IMG_9972

noodles are everywhere

On the third floor, we saw a lot of people were busy designing their own cups for cupnoodles. However, since it was not yet our reservation time, so we went to the fourth floor where the cupnoodles park is located.

they are all designing their package

they are all designing their package

IMG_9975

The cupnoodles park was simply a playground for small children with the idea of making a cupnoodles. So the children climbed the rope, then slided as if they were going to enter a boiling water. Then they entered a small tunnel as if they were rotated by the machine. Lastly, they slided inside the cupnoodles boxes as if they were ready to be packed. Well, I cannot describe it  very well because I couldn’t take any picture inside. The admission fee for cupnoodles park is 300 yen for 30 minutes.

you can enjoy some noodle-based dishes inside

you can enjoy some noodle-based dishes inside

After playing in the park, then we queued for creating our own cupnoodles’ package. The queue was long because it seems like many people were willing to design their own package. Since me and kakak didn’t have a good sense of art *haha…* so we drew a-not-so-nice pictures and it didn’t take a long time for us to finish our drawing, unlike the others.

IMG_9991

the ingredients for cupnoodles

the ingredients for cupnoodles

plastic wrapping machine

plastic wrapping machine

After finishing the drawing, we queued again to process the cupnoodles. The staff asked us to bring our package, then the staff filled it with instant noodles. Then, the staff asked which flavour of noodles that we like, and asked us to choose four ingredients to put inside our cupnoodles. The cupnoodles then wrapped inside a plastic bag and ready to be carried away.

IMG_9998

this is the final result of our own-design cuonoodles’ package

Kakak kept asking me to cook the cupnoodles at home, but I told her that we cannot cook it because it contain some of not halal ingredients. She was a bit dissapointed, because it seems like she really expect to eat the cupnoodles. In addition, she is actually a noodle lovers, remember about the fried noodles that I cooked before? haha…gomen ne kakak :P

There is a small souvenir shop inside cupnoodles museum, but we didn’t buy anything. Well, I kinda interested with the cupnoodles magnet that is being sold there, but I prefer to go back there some other day and just go directly to the shop.

Anyway, it was a nice experience to spend the half day in cupnoodles museum. I had a lot of fun with kakak especialy inside cupnoodles park. I hope she also enjoyed the short trip today.

Mie goreng

Resep ini pertama kali diajarin oleh salah seorang teman di Ooka, namanya mba Ratna. Beliau ini emang jago masak dan dulu kita sering kebagian icip-icip. Nah, mie goreng ini jadi menu andalan kalo pas ada party, dan teman-teman dari negara lain juga suka menikmatinya. Tapi, persiapannya sendiri sebenernya ribet karena variasi bahan di dalamnya banyak, jadilah untuk konsumsi pribadi saya sesuaikan sendiri dengan stok yang ada di kulkas :)

IMG_9925

Mie Goreng

Bahan:

  • 300 gr Mie kuning basah
  • Kecap manis secukupnya
  • 2 butir telur, dikocok lepas
  • 3 siung bawang putih, digeprek
  • 1 buah wortel, diiris korek api
  • 1/4 buah kol, diiris kasar
  • 200gr ayam, kulit dan lemaknya dipisahkan, dagingnya diiris dadu
  • Garam secukupnya
  • Merica bubuk secukupnya

Cara membuat:

  • Mie kuning dicampur dengan kecap manis, aduk rata lalu sisihkan.
  • Tumis kulit dan lemak ayam hingga keluar minyaknya. Sisihkan
  • Telur digoreng orak arik, sisihkan.
  • Tumis bawang putih dengan menggunakan minyak ayam, lalu sisihkan bawang putihnya.
  • Masukkan ayam dan wortel, masak hingga ayam berubah warna.
  • Tambahkan mie kuning.
  • Masukkan garam dan merica bubuk.
  • Tambahkan kol.
  • Masak hingga matang.
  • Angkat dan taburkan telur orak arik dan bawang goreng diatasnya.
  • Sajikan.

Kakak paling doyan makan mie dan reaksinya ketika makan mie goreng ini adalah “oishii bunda, makasih ya bunda” dan makannya pun lahap pisan :)  Senengnya kalo liat anak doyan makan :)

I love you kakak :)