Review Skin care : The Body Shop Vitamin E Series

Dulu saya pernah bercerita tentang pengalaman mencari skin care yang tepat untuk kulit saya Kulit wajah saya termasuk yang kombinasi, oleh karenanya saya menggunakan seaweed series (spf day cream, night cream, facial wash, exfoliator, pore perfector, dan masker) selama satu setengah tahun dan puas dengan hasilnya, jerawat cukup jarang nempel kecuali lg period, dan kulit wajah juga lumayan cerah. Mama dan adek yang suka komentar kalo wajah saya terlihat lebih bersih dan cerah.

Terakhir sebelum berangkat ke Jepang saya menggunakan nutriganics series (day cream, night cream dan serum), namun setelah menghabiskan satu botol (sekitar 3 bulan pemakaian) hasilnya di kulit saya malah ga cocok, kulit jadi berjerawat dan di dagu kemerahan dan berasa panas dan pedih saat menggunakan night cream.

Nah, setelah berada disini, dan mulai dihadapkan pada cuaca yang dingin, kulit saya menjadi kering. Oleh karenanya saya mencoba menggunakan varian lain, vitamin e series. Awalnya saya hanya menggunakan day cream dan night cream, kemudian mulai nambah ke facial wash, cleanser, dan terakhir overnight serumnya.

20140421-213645.jpg

Di awal penggunaan, seperti biasa kulit saya mengalami penyesuaian kurleb tiga minggu, saat itu kulit jadi berjerawat dan terlihat kusam. Saya sendiri masih belum puas dengan kondisi kulit saat itu. Namun kemudian setelah memasuki sebulan, kulit terlihat lebih calm, jerawat kecil2 mulai menghilang dan hanya muncul sesekali saja saat period. Yang membuat saya senang adalah tanggapan dari keluarga yang sudah lama ga bertemu, saat kemaren saya sempat pulang seminggu mereka komentar jika sekarang wajah saya terlihat lebih bersih dan agak putihan :p
Tapi..seminggu berada di Jakarta kemarin (udah sebulan lebih tepatnya sih), dan terpapar cuaca panas disana membuat kulit saya jadi sangat berminyak ketika mengaplikasikan day creamnya. Selain itu, dagu saya juga menjadi kemerahan. FYI, dagu saya memang termasuk bagian yang paling sensitif yang akan langsung bereaksi kemerahan jika tidak cocok dengan skincare. Hadeuh, saya jadi ragu untuk menggunakan vitamin E series ini di jakarta. Akan tetapi, karena saya lebih banyak menggunakannya disini, jadi sampai saat ini sih saya masih setia dengan vitamin E series. Nah, ketika saya kembali kesini, dagu yang kemerahan itu pun berangsur pulih dan sekarang kulit saya sudah seperti biasa lagi.

Tambahannya, sudah sebulan setengah ini saya mencoba serum in oil, vitamin E overnight serum, sebelum menggunakan night cream. Tapi saya belum melihat hasil yang signifikan di wajah saya, masih tampak sama seperti saat saya belum menggunakan serum ini. Semoga saja hasilnya benar ya seperti yang dikatakan, replenish dan recharge kulit serta membuat kulit tampak lebih halus *pegang2 wajah*

Jadi, berdasarkan pengalaman saya, dan sesuai rekomendasi dari the body shop, memang vitamin E ini cocoknya untuk yang kulitnya kering, dan kurang cocok untuk tipe kulit kombinasi seperti saya, karena akan mengakibatkan minyak yang berlebih di wajah. Namun selama saya disini saya masih akan menggunakan varian vitamin E series . Pe er buat saya untuk mencari varian lain dari the body shop ketika saya akan pulang ke jakarta setelah menyelesaikan kuliah disini :(

Oiya, baru2 ini saya mencoba drops of youth dari the body shop juga sebagai pre serum. Namun saya belum akan mereview drops of youth ini, nunggu hasilnya terlihat dulu ya :)

*bukan postingan berbayar*
*padahal kalo dibayar lebih seneng* :D

Hujan, notebook, Michael Buble, dan secangkir chrysantemum tea


20140406-151925.jpg

Dari jendela kamar terlihat mendung yang bergelayut di langit dan hujan yang turun deras. Ramalan cuaca di accuweather menyatakan bahwa sore hari ini akan terus hujan, dan baru nanti malam hujan berganti menjadi mendung, untuk berubah menjadi cerah keesokan harinya.

Saya masih memelototi notebook pemberian kampus di hadapan, mencoba mencerna jurnal ekonomi didepan mata, mencari topik yang tepat untuk diajukan kepada supervisor saya hari rabu nanti. Semester dua di universitas ini saya sudah diarahkan untuk mulai menyusun thesis dan diberikan supervisor pribadi untuk masing-masing mahasiswa. Beberapa hari yang lalu saya mendapatkan email dari kampus yang menyampaikan nama supervisor thesis saya, kemudian saya mengenalkan diri kepada beliau melalui email, dan ternyata beliau meminta saya bertemu dengannya, namun sebelumnya saya harus mengirimkan research plan saya.

Dan weekend ini pun harus saya habiskan mencari tema research yang sesuai dengan bidang beliau, namun belum juga berhasil menemukan tema yang tepat dan bisa saya mengerti. OMG, jurnal-jurnal ekonomi yang saya download ternyata menggunakan metodologi yang saat ini tak saya mengerti, lalu bagaimana nasib saya? ah… harus optimis, insyaallah bisa menemukan topik yang tepat. Amien…

Dan playlist saya hari ini, di sore yang mendung ini, adalah Michael Buble. Saya bukan fans berat dari salah satu penyanyi, namun saya menyukai lagu-lagunya Michael Buble, karena lagunya yang ringan, meaningful, dan dapat dinyanyikan di kamar mandi :P lagunya yang berjudul “close your eyes” pas banget untuk menemani sore yang mendung dan sendu ini.

Namun sayangnya karena banyak yang hapal lagunya si Mas Michael, jadilah konsentrasi saya terpecah antara membaca jurnal dan menyanyi. Dan akhirnya, dengan susah payah menyelesaikan satu jurnal, namun tak mampu mencerna maksudnya. Ya Robb, berilah hambamu ini kemampuan dan kemauan yang keras untuk dapat menemukan judul thesis yang tepat dan menyelesaikan thesis tersebut tepat pada waktunya nanti. Amien..

Dan aktivitas sore ini tepat sekali jika ditemani dengan chrysanthemum tea pemberian teman saya, seorang China Tionghoa yang sangat pintar dan ramah. Dia penyuka teh dan saya pernah berkesempatan menikmati beraneka ragam teh dari negeri asalnya. Kemudian hari dia memberikan saya satu kaleng chrysanthemum tea. Isinya berupa bunga-bunga chrysanthemum kering yang diseduh dengan air panas untuk menghasilkan satu cangkir chrysanthemum tea. Rasanya tehnya tidak sewangi teh melati khas Indonesia, namun sedikit tawar dan cenderung bitter. Chrysanthemum tea dipercaya dapat meredakan sakit tenggorokan, influenza, dan treatment untuk beberapa penyakit mata. Chrysanthemum tea pada khususnya dan semua jenis teh pada umumnya akan lebih enak jika dinikmati tanpa gula, sehingga kita dapat merasakan rasa asli tumbuhan yang diolah menjadi teh tersebut. Ini mengubah pandangan saya akan teh. Sebelumnya saya penikmat teh manis hangat sebagaimana yang disajikan mama saya setiap hari semenjak saya kecil. Namun ketika saya diperkenalkan dengan berbagai macam teh dari Tiongkok, maka persepsi saya pun berubah. Ternyata rasa teh asli dan tawar tanpa gula itu lebih nikmat, you name it, teh hijau, lady grey tea, teh mawar, rosella tea, termasuk chrysanthemum tea.

Secangkir chrysanthemum tea, hujan, notebook, dan Michael Buble menemani minggu sore saya yang mendung dan sendu ini…

Cherry Blossoms at Ueno Park

Welcome spring…

setelah empat bulan mengalami musim dingin, akhirnya musim semi tiba… kemarin-kemarin rasanya tak sabar menanti sakura mekar dan memandang sakura sambil piknik bersama teman atau yang lebih dikenal dengan nama “hanami” (hana: bunga, mi=mimasu/miru:melihat). Alhamdulillah akhirnya penantian tersebut berakhir sudah :)

Untuk tahun ini, jadwal mekar bunganya dimulai dari akhir Maret hingga awal April, dan Alhamdulillah karena masih spring break jadi bisa puas keliling-keliling sakura hunting seputar Yokohama dan Tokyo. Jadi mohon maaf yaa kalo untuk beberapa waktu ke depan, blog ini akan penuh dengan foto sakura :P

Spot hanami pertama adalah Ueno Park. Untuk menuju Ueno park, kami cukup menaiki JR dan turun di Ueno station, lalu berjalan sekitar 7 menit mencapai Ueno park.

Ueno park merupakan taman publik yang menjadi spot favorit turis, dan terkenal pula akan keindahan sakuranya di kala spring, menurut informasi dari Japan Guide, terdapat sekitar 1000 pohon sakura sepanjang jalan utama di Ueno park ini, wow…tak heran jika Ueno park merupakan tempat favorit untuk hanami. Saya dan teman-teman tiba di Ueno park sekitar pukul 3 sore, dan tamannya sangat crowded!!! bahkan kami beberapa kali mendapati orang Indonesia (entah mahasiswa juga atau turis) yang juga mendatangi Ueno park.

ueno12

what a breath-taking view of sakura

ueno15

lebih indah jika dipandang langsung

Pertama kali tiba disana, kami langsung disambut jejeran pohon sakura di kiri kanan kami di sepanjang jalan, what a breath-taking view. Di kiri kanan jalan juga terdapat banyak orang yang hanami-an, piknik sambil menikmati bento dan minum2 di bawah pohon sakura bersama keluarga atau teman. Namun karena spot hanami nya sudah penuh, maka kami hanya berjalan menyusuri jalan utama sembari foto-foto dan menikmati indahnya sakura.

ueno13

they are enjoying hanami with friends and family

ueno14

Ueno park sebenarnya terintegrasi dengan berbagai temple dan shrine, seperti Kiyomizu Kannon temple, Toshogu shrine, dan Bentendo ditengah-tengah Shinobazu pond. Serta tak jauh pula dari Ueno zoo sehingga bisa dibilang Ueno park adalah one stop tourist spot. Kuil-kuil ini makin cantik berhiaskan sakura sebagai backgroundnya :)

ueno10

selain sakura pink muda-mendekati putih, kami juga menjumpai sakura pink tua, walau jumlahnya tak sebanyak sakura putih.

ueno16

dan kami juga menjumpai bunga-yang-bukan-sakura-entah-apa-namanya-tapi-cantik-banget  setelah digoogling ternyata ini juga sejenis sakura, namanya weeping cherries :)

ueno9

bunganya terjuntai ke bawah, cantik banget

Sepuas menikmati sakura disepanjang jalan, kami mampir ke food stall yang menjual berbagai makanan khas Jepang, mulai dari Takoyaki, okonomiyaki, cumi panggang, hingga kebab halal pun ada, dengan harga yang bervariasi antara 200-500 yen.

ueno11

takoyaki

Ketika hari makin petang, lentera mulai dinyalakan, dan membuat warna yang kontras dengan sakura yang bermekaran.

ueno8

Di saat hari mulai gelap, kami baru menemukan pond yang terdapat kuil ditengah-tengahnya.

ueno6

shinobazu pond

ueno3

bentendo, an octagonal temple in the middle of the pond

ueno4

street foods along the way to bentendo

Sayang sekali karena kami jadi tak puas mengambil foto sakura di jalan sepanjang kolam tersebut dan tak dapat menaiki perahu untuk menyusuri kolam. Namun tak apa-apa, karena kami bisa menikmati berbagai jajanan yang juga dijual disekitar kolam. Disini saya mencoba choco banana seharga 200 yen.

ueno7

Sebenarnya saya tertarik menikmati ichigo (strawberry) atau ringo (apel) yang dibalur karamel, namun sepertinya rasanya terlalu manis sehingga saya pun mengurungkan niat.

ueno5

Suasana malam hari di Ueno park tampak lebih dramatis dan masih tetap rame, mungkin para pekerja yang baru pulang kantor juga ingin menikmati hanami disini.

ueno2

Sebenarnya kami belum puas menikmati semua bagian dari Ueno park, namun karena waktu sudah malam dan perjalanan pulang masih jauh, maka kami pun dengan berat hati harus mengakhiri sakura hunting di Ueno park. Next, sakura hunting berikutnya adalah seputar Yokohama :P

ueno1

the big lantern in front of Ueno park entrance

Shin yokohama ramen museum

20140327-225756.jpg

Shin Yokohama Ramen Museum

Pernahkah anda makan ramen? mungkin pernah mencoba ramen di Indonesia, namun bagaimana dengan ramen asli Jepang di negeri asalnya? ternyata makan ramen disini tak semudah yang dibayangkan.

Ramen di Jepang berasal dari China, yang kemudian menyatu dengan cita rasa makanan lokal Jepang, membuat rasa ramen bervariasi dari satu daerah ke daerah lain di Jepang. Perbedaan antara ramen Jepang dan ramen/mie dari China, negeri asalnya, adalah di kuah ramen tersebut, yang mana kuah ramen khas Jepang hanya dipakai untuk ramen itu sendiri, sementara kuah/kaldu dalam Chinese noodles biasanya digunakan pula untuk berbagai masakan khas China lainnya.

20140327-225731.jpg

Untuk mie, terdapat berbagai variasi mie untuk ramen, mulai dari mie yang tipis, tebal, keriting, hingga hirauchi noodles (berbentuk tali kepang). Selain itu, faktor penentu kenikmatan ramen lainnya adalah sup/kuah ramennya. Disini, kuah ramen umumnya ditambah kaldu ayam atau kaldu babi, sehingga bagi muslim cenderung tidak dapat menikmati, kecuali ramen vegetarian yang kuahnya kaldu ikan atau miso soup. Itulah sebabnya mengapa tak mudah merasakan ramen disini. Selama setengah tahun saya berada disini, baru sekali ini menyantap ramen vegetarian di Shin Yokohama Ramen Museum. Lokasinya berada di sekitar stasiun Shin Yokohama. Dari stasiun, keluar melalui exit 8 dan museum ini letaknya tak jauh dari exit 8 tersebut. Jika anda tertarik mencoba merasakan ramen vegetarian (bagi muslim) atau beraneka rasa ramen dari seluruh penjuru Jepang (bagi non muslim), maka disini tempat yang tepat. Business hoursnya mulai dari jam 11 siang sampai jam 10 malam. Di dalam museum ini terdapat sembilan restoran ramen yang menyajikan berbagai macam variasi ramen.

20140327-225404.jpg

Ramen Shop

20140327-225713.jpg

20140327-225344.jpg

beraneka jenis ramen di penjuru Jepang

Tiket masuknya hanya 300 yen dan kita dapat langsung membelinya melalui mesin khusus. Ramen Museum terdiri dari tiga lantai, yang uniknya lantainya justru menurun menuju B1 dan B2, bukannya naik ke atas. Di lantai 1 terdapat ramen shop yang menjual berbagai macam ramen dan suvenir khas seputar ramen seperti sumpit, bowl, saringan mie, dan gantungan kunci ramen. Selain itu kita juga bisa berfoto dengan pakaian koki ramen dengan membayar ¥500.

20140327-225423.jpg

20140327-225440.jpg

view of the ramen restaurants in the B2 floor

20140327-225456.jpg

neng, ke Thamrin berapaan? deket koq…

20140327-225512.jpg

nelpon sapa om? :D

20140327-225526.jpg

buruan atuh ceu, ini yang antre banyak

20140327-225543.jpg

20140327-225610.jpg


20140327-225743.jpg

pak polisinya yang ngajarin foto sambil hormat :P

Di lantai B1 terdapat replika bangunan-bangunan Jepang tempoe doeloe yang ditata menyerupai suasana tahun 1958, seperti vespa jadul, box telepon jadul, rumah2 jadul penduduk, dan berbagai properti yang tertata apik dan detail sehingga berada disana membuat kita seakan kembali ke era 60-an. Di lantai B1 ini juga terdapat beberapa restoran ramen, yang uniknya, untuk memesan ramen kita harus memakai mesin order, dimana kita cukup memasukkan uang ke dalam mesin lalu memilih menu yang akan kita pesan dan mendapatkan tiket. Kemudian kita cukup masuk dan menyerahkan tiket, lalu tak lama pesananpun datang.

20140327-225631.jpg

mesin order ramen

20140327-225621.jpg

salah satu ramen restaurant yang ada di Ramen Museum

Di lantai B2 terdapat berbagai restoran ramen yang juga menggunakan metode pemesanan dan pembayaran yang sama. Namun sayangnya karena kebanyakan ramen mengandung babi atau kaldunya, jadi yang bisa dipesan hanyalah ramen vegetarian, specifically ramen vegetarian yang berada di restoran Men no bo Toride. Ramen ini terdiri dari mie, toge, daun bawang, dan potongan tahu goreng lalu disiram kuah miso. Rasanya sih menurut saya biasa saja, kuahnya lumayan enak, tapi harganya mahal banget, ¥900. Tapi tak ada salahnya mencoba sekali untuk menghilangkan rasa penasaran akan ramen. Dan setelah mencobanya, aah..saya lebih doyan indomie :P

20140327-225644.jpg

ramen veggies

20140327-225706.jpg

ittadakimasu…

Japan Trip: Sensoji Temple at Asakusa

Awal Januari 2014, sebelum winter break berakhir, saya menyempatkan diri untuk get lost sendirian dengan tujuan utama Sensoji temple di Asakusa dan Tokyo Skytree. You know, sometimes you just want to be alone and enjoy the exploration by yourself, dengan segala konsekuensinya, khususnya nyasar :P

Alhamdulillah cuaca hari itu cerah meskipun suhu cukup dingin, dari asrama, saya menaiki keikyu line dan sengaja mencari kereta yang langsung turun di Asakusa station tanpa harus transfer. Dari Asakusa station, saya mencari exit A4 (exit kaminarimon gate), dari exit A4 saya belok kanan, kemudian di persimpangan pertama saya belok kiri. Jika tak mengetahui arah menuju Sensoji temple, cukup mengikuti keramaian orang berlalu lalang saja selepas exit A4, karena Sensoji temple merupakan spot turis yang sangat populer di Tokyo.

Dalam perjalanan menuju Sensoji temple, saya sempat mengabadikan foto seorang penarik becak bertenaga manusia yang sedang menarik dua orang wisatawan di becaknya. Menyadari bahwa saya sedang mengambil gambar mereka, kompak mereka bertiga berpose untuk saya, senangnya :)

1

Sensoji temple atau yang juga dikenal dengan nama Asakusa Kannon temple, merupakan kuil Budha yang terbesar di area Tokyo. Konon, pada tahun 628 M, dua kakak beradik tak sengaja menangkap patung Buddha di Sumida River. Meskipun mereka berulang kali berusaha mengembalikan patung tersebut ke dalam sungai, namun patung tersebut selalu kembali pada mereka. Akhirnya dibangunlah Sensoji temple di sekitar Sumida River untuk menyimpan patung tersebut. Keseluruhan pembangunan kuil diselesaikan pada tahun 645 M. 

Sensoji temple terbagi menjadi beberapa bagian, di bagian terdepan terdapat Kaminarimon Gate, yang merupakan pintu gerbang menuju Sensoji temple. Ketika kita keluar dari exit A4 dan berjalan mengikuti arah yang tepat, maka kita akan dengan mudah menemukan gerbang ini.

2

Kaminarimon Gate

Masuk dari Kaminarimon Gate terdapat Asakusa Nakamise Shopping Street sepanjang 200 meter yang menjual berbagai macam pernik khas Jepang, suvenir, hingga beraneka ragam sweets dan makanan khas Jepang. Saat saya mengunjungi Sensoji temple, mulai dari Kaminarimon Gate hingga ke Main Hall sangat padat oleh pengunjung yang tak hanya ingin berwisata namun juga berdoa memohon keberuntungan di tahun yang baru.

3

4

6

berbagai suvenir dijajakan disini

5

berbagai cemilan khas Jepang pun turut dijajakan

Beberapa toko menerima credit card visa dan mastercard, jadi jika tak membawa cash dalam jumlah banyak, tak perlu khawatir :)

Gerbang bagian dalam Sensoji temple bernama Hozomon Gate, dan disebelahnya terdapat five-storied pagoda. Setelah memasuki Hozomon Gate, saya dapat menyaksikan main hall, namun saya tak memasukinya karena tidak sanggup melihat kerumunan manusia yang menyesak memasuki main hall untuk berdoa. Jadi, saya langsung berbelok ke sebelah kiri dari Hozomon Gate, tempat dimana saya melihat beberapa pengurus kuil menjual berbagai macam jimat dan doa-doa kepada para pengunjung.

7

Hozomon Gate

8

Five-storied Pagoda

9

jimat dan doa-doa dapat dibeli disini

Di bagian sebelah kiri Hozomon Gate terdapat berbagai stall makanan khas Jepang, seperti yakisoba dan takoyaki. Saya tidak yakin apakah stall2 ini selalu berjualan setiap hari atau hanya pada hari2 tertentu saja.

10

penjual takoyaki dan yakisoba

Sebenarnya masih banyak yang ingin saya eksplor di Sensoji temple, khususnya Nakamise :P tapi karena terlalu ramai pengunjung sehingga tak nyaman untuk mengelilingi kuil, maka saya pun melanjutkan perjalanan menuju Tokyo Skytree… (to be continue…)

Bertambah satu

Bertambah satu dalam angka
Namun, berkurang satu dalam hidup
Semoga, bertambah satu pula dalam pengalaman
Bertambah satu pula dalam kebaikan
Bertambah satu pula dalam kedewasaan

Amien..

20140304-203354.jpg

The First Kimono Experience

Last saturday, I was given a chance to try to wear kimono, the Japanese traditional cloth. Kimono stands for “ki” which means “to wear” and “mono” which means “thing”, so, kimono literally means to wear a thing. During the ancient times, Japanese women wear kimono and/or yukata, almost everyday. However, nowadays, they wear kimono only during a special occasion, such as wedding, ceremony, and matsuri.20140301-163034.jpg

This March, Japanese will celebrate hina matsuri, the celebration for the daughter in a family. To celebrate it, Japanese usually display the Japanese doll, eat special cake, pray for the happiness and health of their daughter, and of course enjoy the celebration itself. One of the way to enjoy it by inviting some friends for party in their home.

And last saturday, Eiko sensei, the dentist nearby our dorm, invited me and my friends to celebrate hina matsuri for her daughter, Kaori san. We enjoyed delicious foods, played bingo together, and wore kimono and wedding kimono that was bring by her Japanese friends. Of course we didn’t want to miss that good opportunity to celebrate hina matsuri and wear kimono.

with Eiko sensei

with Eiko sensei

Kimono usually made from silk, thus kimono is really expensive in Japan. The price of good quality of kimono usually starts from 10,000 yen. That’s the reason why I don’t want to buy a kimono from Japan. But I will consider to buy yukata, the simpler and cheaper version of kimono that is usually being wore during summer.

To wear a kimono, we should wear a special “underwear” clothes that looks like a simple and thin kimono. The color usually white and made from cotton. Kimono itself consists of inner cloth, outer kimono, obi, and tied with ropes. There are various types of kimono and various way to wear kimono. Kimono for unmarried woman is different from kimono for married woman. The one that I wore was kimono for married woman, which had the short sleeves only.

In my opinion, wearing kimono is almost similar with wearing traditional kebaya, because in order to make the kimono looks straight and good, it should be tightened by pulling the ropes. The way to tighten the kimono is similar with the way to wear traditional fabric (songket or batik) for lower cloth in order to wear traditional kebaya. Songket, or batik, should be tightened to make it looks straight, before wearing kebaya as the upper cloth.

As for me, I was so amazed and excited to wear kimono, as if I was a Japanese from Edo period. Kimono itself is so beautiful, and by wearing it, it made me feel beautiful also. The same feeling that I got when I wore traditional kebaya in my country. The feeling of grace, elegance, and beautiful of wearing a traditional cloth.

20140301-163014.jpg

And I was also given a chance to try to wear the Japanese wedding kimono, which costs 8.7 million yen!! Wedding kimono is so expensive because it is hand made creation, it is also made from the good quality of silk, with a difficult pattern to be drawn in a kimono. Therefore, having a wedding kimono considered as having a priceless treasure for Japanese women.

wedding kimono which cost 8.7 million yen, totemo takai desu ne!

wedding kimono which cost 8.7 million yen, totemo takai desu ne!

The first experience of wearing kimono was extremely interesting, and I hope later I will be given another opportunity to wear kimono and join the tea ceremony or other Japanese matsuri :)