Hiroshima, the re-born city (Part 1)

Tak pernah punya target untuk mengunjungi Hiroshima, karena letaknya yang nun jauh di selatan Jepang. Dan saya yakin wisatawan yang sengaja datang ke Hiroshima either traveler lokal Jepang atau memang benar-benar traveler yang niat menjelajah kesini. Saat sedang hectic di semester dua yang lalu, sebuah tawaran datang untuk ikut trip ke Hiroshima. Awalnya tak yakin ingin ikut, mengingat tugas-tugas menumpuk, namun kemudian saya berpikir, kapan lagi bisa ada kesempatan ke Hiroshima, kemungkinan tahun kedua ketika kakak sudah disini saya tak akan bisa menyempatkan diri mengunjungi Hiroshima. Jadi akhirnya tawaran tersebut saya iyakan. Kami menggunakan willer express, untuk tiket PP totalnya 15,440 yen. Lumayan mahal di ongkos sih, tapi Alhamdulillah karena teman-teman saya punya teman di Hiroshima university, jadi kami menginap semalam disana. Total trip kami selama 3 hari 2 malam, semalam menginap di rumah teman dan semalam berikutnya menginap di Hana hostel dengan tarif 3000 yen permalam.

Hirodai

Hirodai

Kami berangkat dari Kawasaki sekitar pukul setengah 9 malam dan tiba keesokan harinya di Hiroshima University sekitar pukul 09.30.

03

kata teman-teman Hirodai, ini landmarknya Hirodai

kata teman-teman Hirodai, ini landmarknya Hirodai

Setibanya di Hiroshima university (Hirodai) kami menyempatkan diri berkeliling menikmati suasana pagi di Hirodai. Sungguh, saya sudah cukup bersyukur mempunyai kampus rindang dan sejuk di Yokokokudai, tapi saya envy sangat melihat kampus Hirodai yang sangat indah, dengan kontur tanah berbukit-bukit serta danau yang asri membuat saya betah berada disana.

04

05

Sepuas menikmati kampus, kami langsung menuju rumah teman dan Alhamdulillah disuguhi makan siang yang mengenyangkan. Hari pertama ini itinerary kami hanya ke Hirodai dan menikmati Festival ASEAN yang diikuti oleh teman-teman Indonesia di Hirodai. Selepas festival, kami diajak ke sebuah taman yang saya lupa namanya, sayangnya karena hujan jadi malas mengeluarkan kamera dan tak ada foto taman ini :(

Tak ketinggalan kami menikmati menu khas Hiroshima, okonomiyaki Hiroshima’s style. katanya yang membedakannya dengan okonomiyaki lain adalah okonomiyaki Hiroshima’s style ini didalamnya ditambah dengan mie.

Okonomiyaki Hiroshima's style

Okonomiyaki Hiroshima’s style

Hari kedua, kami langsung menuju ke Iwakuni, southeastern part of Yamaguchi prefecture sebenarnya. Disini terdapat Kintai-kyo bridge, jembatan kayu yang strukturnya sangat unik dan menjadi salah satu tourist destination di seputaran Hiroshima.

Kintai-kyo bridge

Kintai-kyo bridge

Jembatan ini terbentang diatas Nishiki river, sungainya sendiri dangkal, dan beberapa orang memancing ditengahnya. Konon Kintai-kyo bridge ini dibangun tanpa menggunakan paku!

"infinity"

“infinity”

Selepas makan siang di pinggir Kintai-kyo bridge, kami melintasi Kikko park, taman cantik yang sebenarnya merupakan bagian dari kediaman penguasa lokal pada zaman Edo.

Kikko park

Kikko park

samurai statue

samurai statue

Sayangnya karena keterbatasan waktu kami tak sempat menjelajah taman ini, dan langsung menuju ropeway yang membawa kami ke puncak bukit, tepatnya menuju Iwakuni castle.

Iwakuni castle from far away

Iwakuni castle from far away

closer look (still from far away)

closer look (still from far away)

nah ini dia penampakan Iwakuni castlenya

nah ini dia penampakan Iwakuni castlenya

Dari Iwakuni castle kami dapat melihat pemandangan Hiroshima dan sekitarnya hingga jauh, kintai-kyo bridge juga terlihat dengan sempurna dari atas sini.14

13

12

Dapat terlihat pula beberapa pulau kecil di sekitar Hiroshima, salah satunya akan kami kunjungi kemudian, Miyajima island.

to be continued…

Pastel Tutup

IMG_8782

PASTEL TUTUP

Recipe by Diah Eldibcaff NCC (Diah Kitchen)

Bahan tutup:

  • 1200 gr kentang, kukus dan haluskan
  • 2 butir telur
  • 1/2 sdt garam
  • 1/2 sdt pala bubuk
  • 1/2 sdt merica bubuk
  • 1/2 sdt bawang putih bubuk
  • penyedap rasa halal (saya skip)

Cara membuat tutup:

  • campur semua bahan diatas dan sisihkan.

Bahan isi:

  • 300 gr daging cincang (bisa diganti ayam cincang)
  • 1 butir bawang bombay ukuran sedang, iris tipis
  • 3-4 siung bawang putih, iris tipis (saya dicincang)
  • 1 buah wortel ukuran sedang diparut kasar/digobet
  • 150 gr kacang polong (ga punya stoknya jd saya skip jg)
  • 3-4 batang seledri dan daun bawang (ga punya stok jd diskip juga)
  • oregano
  • Merica
  • gula
  • garam
  • pala bubuk
  • penyedap rasa halal (saya skip)
  • 4 sdm saos tomat (ga punya stok jd diskip juga)
  • 1 sdm tepung terigu
  • 100 ml susu cair
  • minyak goreng untuk menumis

Cara membuat isi:

  • tumis bawang bombay dan bawang putih sampai harum
  • masukkan daging cincang dan masak sampai berubah warna
  • masukkan wortel, aduk dan tambahkan bumbu2.
  • Aduk hingga setengah matang lalu masukkan kacang polong
  • masukkan susu cair dan saos tomat
  • biarkan hingga mendidih dan matang, lalu taburi terigu dan aduk dengan api kecil.
  • terakhir masukkan oregano.
  • matikan api dan tambahkan irisan seledri dan daun bawang.

Penyelesaian:

  • olesi pinggan tahan panas dengan mentega
  • bagi adonan tutup menjadi dua bagian
  • masukkan separuh adonan tutup dan ratakan
  • masukkan bahan isi, ratakan
  • tutup lagi dengan bahan tutup, ratakan.
  • taburi atasnya dengan keju parut
  • panggang dengan suhu 180 derajat hingga kecokelatan. (berhubung ga dikasih keterangan lama memanggang, jadi saya panggang sekitar 40 menit).
  • Angkat dan sajikan dengan saos sambal dan mayonaise.

IMG_8798

Comment:

Dari awal pas mba Diah posting di NCC, saya sudah tertarik mencoba pastel tutup ini, dan ternyata tidak terlalu rumit prosesnya serta rasanya pun enak. Hanya saja, untuk ukuran makan berdua dengan kakak, porsinya kebanyakan. Dengan resep ini jadi 2 pinggan seperti digambar. Jadi, lain kali mungkin saya akan coba setengah resep saja. Makasih ya mba diah atas resepnya. Oishii desyou…

 

 

 

Icha’s Adventures in Japan

10649862_683004725120136_4545731269284678626_n

Alhamdulillah dah tiga minggu kakak berada disini bersama bunda, dan selama ini pula ketika ditanya kakak mau pulang ke Jakarta ga? jawabnya “emoh” hehe…

Berdua aja tinggal di negeri orang merupakan hal yang sangat menantang, melelahkan, tapi juga menegangkan. Excited and worried at the same time. Yah, ga bisa dipungkiri karena disini hanya berdua, jadi kami depend on each other, terlebih kakak yang depend on bunda.

Selama oktober kakak masih masuk ke daycare swasta yang berada di depan kampus bunda. Untuk menuju kesana, kami harus menaiki subway hingga stasiun terdekat dari kampus, kemudian berjalan kaki selama kurang lebih 20 menit. Nah, pertama kali trial ke kampus berjalan kaki lewat jalan raya depan kampus, kakak mengeluh capek, mungkin karena belum terbiasa banyak jalan disini. Hari pertama ngampus juga ada welcome party untuk mahasiswa baru, jadi pulang dari kampus sudah jam 7 malam dan we missed the bus from university to yokohama station, sehingga harus berjalan kaki menuju stasiun terdekat dari kampus. Karena kakak sudah ngantuk dan capek, jadi kakak ga mau jalan, walhasil bunda sukses menggendong anak bocah dengan berat 17.3 kg dari kampus ke stasiun yang berjarak tempuh 20 menit itu. Masyaallah,rasanya bunda hampir pingsan, ditambah harus menaiki tangga penyeberangan jalan yang lumayan tinggi dan panjang. That’s what I called motherhood, hahaha…

Akhirnya disiasati, ke kampusnya berangkat melewati bukit, kakak suka melewati bukit karena bisa melihat kebun kol di kiri kanan jalan dan melihat jalan tol di bawah jembatan (yeah…kesenangan anak kecil ternyata sesederhana itu). Sementara untuk perjalanan pulang, karena pulang kampus sudah malam, akhirnya kami menggunakan bis menuju yokohama station, lalu duduk sebentar di dekat Yodobashi camera dan nyuapin kakak makan malam. Yup, kakak dah terlalu lapar untuk menunggu makan malam setiba dirumah, jadi dengan menahan rasa malu, bunda pun menyuapi kakak di depan Yodobashi camera. Seringkali beberapa orang melihat dengan tatapan aneh ke kami, tapi bunda pura-pura acuh aja, lah daripada anak kecil ini kelaparan dan rewel lebih lanjut. Hehe… Setelah selesai makan malam barulah kami melanjutkan perjalanan pulang ke dorm dengan subway. Tiba di rumah biasanya sudah hampir pukul 8 malam.

Berhubung dihitung-hitung biaya naik bis dan berhenti di Yokohama station lumayan mahal (karena biasanya kakak akan minta mampir ke toko roti dan membeli roti serta susu kotak), serta waktu tempuh yang lumayan lama, jadilah semenjak kemaren bunda memutuskan membawa stroller ke kampus. Yeah, almost 5 years old masih pake stroller..padahal terakhir kakak pake stroller keknya usia 3 bulan deh, wkwkwk…

Jadi, salah seorang teman yang sudah back for good mewariskan stroller anaknya, dan stroller ini dititipkan diteman bunda. Awalnya bunda ga pengen pake stroller mengingat kakak sudah cukup besar untuk jalan jauh, tapi bunda lupa bahwa di Indonesia kakak tidak terlalu sering jalan jauh, biasanya naik kendaraan. Sementara disini, kemana-mana mesti jalan dan terkadang jalannya lumayan jauh, jadi okelah untuk di awal-awal masa adaptasi bunda akhirnya menggunakan stroller.

Nah, setelah ditrial kemaren pake stroller, lumayan ringan dan irit juga. Jadi, menuju ke kampus kakak stroller sampai jembatan penyebrangan, lalu turun dan berjalan kaki hingga kampus. Kemudian, untuk pulangnya, kakak naik stroller deh sampe rumah. Senengnya karena jam 7 kurang udah sampe di dorm. Wah, irit satu jam, kakak bisa dinner di rumah, dan irit biaya..hehe…

Sementara untuk sekolahnya kakak, saat ini bunda sedang mengajukan aplikasi daycare pemerintah yg berlokasi disekitar dorm, pengumumannya insyaallah tgl 20-22 ini, dan jika kakak diterima, maka per november kakak akan masuk daycare disekitar dorm setiap selasa-jumat full day. Sayangnya seat yg tersedia sangat terbatas, hanya 1 seat di daycare yg paling dekat dan 2 seats di daycare yg agak jauh dari dorm. Semoga kakak bisa keterima deh, jadi bisa ngirit waktu dan biaya (lagi). Karena daycare kakak saat ini cukup mahal. Untuk penitipan perhari full day 1650 yen, dan 700 yen untuk half day tanpa lunch. Alhamdulillah karena bunda merupakan mahasiswa yg tax free jadi bisa mendapatkan hikazei shoumeshou (sertifikat bebas pajak) sehingga mendapat diskon pembayaran uang daycare perhari, so bunda hanya bayar 370 yen untuk half day. Kakak masuk dua-tiga kali seminggu, tergantung jadwal bunda di kampus. Jadi, ketika kami tiba dikampus, kakak akan lunch dulu di study room bunda, lalu bunda antar ke daycare dan ditinggal dari tengah hari hingga dijemput jam 6 sore.

Di awal-awal meninggalkan kakak di daycare, drama banget deh, kakak nangis-nangis ga mau ditinggal, tapi Alhamdulillah kemaren dia ga pake nangis lagi, walau raut wajahnya masih tampak ragu dan khawatir. Insyaallah sudah makin pintar beradaptasi. Senseinya juga cerita kalau kakak didaycare juga ikut menari bersama teman-teman diiringi piano, makan snack sore dengan lahap, mewarnai dan bermain. Proud of her, of course…

Masih panjang adventure kita disini nak, insyaallah 9,5 bulan ke depan masih akan banyak petualangan yg akan kita lalui setiap hari, yang semoga bisa menjadi pelajaran berharga kelak baik untuk bunda maupun kakak. Saat ini mungkin terasa berat, capek, melelahkan, namun juga menegangkan. Tapi kelak, ketika kita sudah berhasil melaluinya dan kembali ke Indonesia, kita akan mengenangnya sebagai kenangan yang indah.

Sup jagung manis

Sore-sore sepulang dari nemenin kakak main di taman dekat dorm, tiba-tiba terbayang sup krim jagung. Sembari menempuh perjalanan pulang, sambil menebak2 bahan apa aja yang ada di kulkas. Trus iseng googling resep sup jagung dan setiba di dorm langsung eksekusi deh :) oiya berhubung ini resepnya nyampur dari berbagai macam sumber dan disesuaikan dengan persediaan yang ada didapur, jadi untuk sumber resep nya dicantumkan google aja ya :D

IMG_8760

Sup jagung

recipe from google search engine 

Bahan:

  • Jagung manis pipil, ambil secukupnya untuk digiling kasar
  • 1 butir telur, dikocok lepas
  • 1/2 siung bawang bombay, diiris kotak kecil
  • 1 buah sosis, iris membulat
  • Margarin untuk menumis
  • Garam, gula, merica untuk penyedap
  • Air secukupnya
  • 1 sdm tepung terigu

Cara membuat:

  • Tumis bawang bombay dengan margarin hingga wangi.
  • Masukkan sosis lalu tumis sebentar.
  • Tambahkan jagung dan air, masak hingga air mendidih.
  • Tambahkan kocokan telur, kacau-kacau telur, tambahkan garam, gula dan merica bubuk.
  • Masak hingga matang.
  • Angkat dan sajikan.

Hasil eksekusinya kurang cerah nih, untuk mendapatkan kombinasi yg lebih cerah bisa ditambahkan wortel dan daun bawang untuk melengkapinya. Berhubung bikinnya dadakan buat dinner jadi abis masak langsung disantap deh. Alhamdulillah kakak suka sup jagungnya, dan bunda juga pake nambah2 makan sup jagungnya :)

 

Be strong, Icha

This was her second day in hoikuen (day care). It supposed to be only half day during october and not yet everyday is a hoikuen day for her. Her first day was two days ago, when I left her in  hoikuen she was still confused of the new situation, but a bit enthusiast because of the piano inside. She loves to see the piano and we talked about the sensei who was playing the piano while the other kids were dancing. When I picked her up in the hoikuen, she was crying and tried to eat some tissues given by her sensei to wipe her tears. I think she couldn’t adapt well yet since it was her first day. However, the sensei said that she ate a lot of lunch, that was somehow ease me.

At home, she was talking about what was happened in the hoikuen and talked about the food as well.

Today is her second day, she is not feeling so well, and a bit reject my idea to go to hoikuen, but I insist her to go to hoikuen, so she can meet her friends and play with them. When we arrived in hoikuen and I am about to leave her, she is crying and screaming loudly, it torned my heart actually, however, I should be strong and show her that everything will be okay for her.

Well, of course I’m feeling terrible now, but I know this is the consequence that we should bear for the next ten months, and I hope she will adjust soon with her environment. And I also expect that she will be accepted in hoikuen near our dorm, so she can go to hoikuen everyday and get in touch longer with her friends.

I hope later, in the future, if you can read my blog and find my notes about today’s hoikuen experience, you will understand that I’m doing all these for you, to make you experience something new, to make you stronger and brave, independent and cheerful woman.

Be strong, Icha, I believe that u are a strong baby, and you and bunda will be able to pass this one too…

With lots of love,

Bunda

Memenuhi Janji

Saya pernah berjanji pada diri saya sendiri, bahwa saya akan berusaha menepati janji terhadap seseorang, siapapun orang tersebut.

Saya belajar dari berbagai pengalaman saya di masa lalu, ketika saya pernah ingkar janji pada seseorang, entah karena lupa atau ketidak sengajaan lain, entah pula karena kesengajaan atau keengganan, sehingga mengakibatkan ketidaknyamanan bagi saya dan orang yang saya janjikan tersebut. Dan sebaliknya, saya juga sering mengalami kejadian dimana seseorang tidak menepati janjinya pada saya, entah karena ketidaksengajaan atau kesengajaan. Vice versa lah..

Hingga kemudian saya berada pada suatu titik, dimana saya tersadar bahwa janji adalah hutang yang harus dilunasi, ditunaikan, karena jika tidak, kelak di hari akhir saya akan ditagih mengenai janji dan hutang saya tersebut.

Jadi, saya berusaha tidak membuat janji manis kepada seseorang kecuali saya merasa bahwa saya sanggup memenuhinya insyaallah. Dan jika saya berjanji, saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk memenuhinya, dengan segala kekurangan yang saya miliki. Oleh karenanya saya juga tidak suka jika seseorang mengingkari atau tidak memenuhi janjinya kepada saya.

Saat ini saya berjanji pada kakak, untuk insyaallah mengajak kakak tinggal di Jepang bersama saya, dan Alhamdulillah jalan ke arah sana semakin terbuka, meskipun saya tau tinggal di negeri orang hanya berdua akan terasa berat, namun saya yakin saya dan kakak akan sanggup melewatinya. Insyaallah…

Saya juga berjanji untuk membelikan kakak sebuah kendaraan roda empat, semata-mata karena kebutuhan untuk membawa seluruh anggota keluarga bersama-sama. Ketika pulang liburan kemarin terasa sekali berat dan repotnya jika seluruh anggota keluarga harus berjalan kaki dari komplek ke jalan raya yang jaraknya cukup jauh dan naik turun angkot, karena susah mendapatkan taksi atau demi penghematan, hehe…

Dan satu hal lagi yang membuat saya trenyuh dan berjanji untuk membelikan kakak kendaraan adalah, ketika kakak suatu ketika berkata bahwa dia sudah menabung untuk membeli sebuah kendaraan roda empat. Ketika saya berkata bahwa kakak harus menabung yang banyak, dia menjawab bahwa tabungannya sudah banyak sekali, namun sayang karena tabungannya ketinggalan di rumah mbahnya, jadi kakak ga bisa beli kendaraan di jakarta ketika kemarin dia pulang ke jakarta.

Saat mendengar jawaban polos kakak, saya jadi sedih, trenyuh dan terharu, dan tersemat suatu keinginan untuk memenuhi keinginannya. Jadi saya sampaikan padanya, bahwa insyaallah nanti sepulang dari jepang kita akan membeli sebuah kendaraan roda empat untuk kakak, amin…

Saya selalu berusaha untuk memenuhi janji saya pada kakak, dengan harapan dia dapat belajar untuk selalu memenuhi janjinya kelak pada orang lain.

Namun, satu hal yang membuat saya sedih adalah, ketika orang lain lupa akan janjinya kepada saya. Saya tau, mungkin mereka tidak berniat untuk mengingkari, hanya sekedar lupa akan janji yang telah dibuatnya kepada saya. Saya berusaha memegang teguh janji yang diberikan seseorang kepada saya, semata-mata karena saya percaya dan berprasangka baik kepadanya. Jika seseorang menyebutkan jangka waktu spesifik atau hal spesifik lain terkait janjinya, maka saya akan menanti dia memenuhi janjinya yang spesifik tersebut. Namun, jika saya sudah menanti tapi dia tak kunjung juga melunasi janjinya pada saya, saat itulah kepercayaan saya mulai luntur kepadanya.

Saya tau, sebagai seorang muslim saya harus mengingatkan orang tersebut agar menepati janjinya, dan sebaliknya saya juga akan senang jika diingatkan akan janji saya, karena saya pun manusia yang tak luput dari lupa. Namun, terkadang terselip rasa enggan atau tak enak hati untuk menegur dan mengingatkan akan janjinya, kecuali jika memang keadaan darurat yang menyebabkan janji tersebut harus dipenuhi segera.

Janji adalah hutang, hutang harus segera dilunasi, entah berupa perkataan, perbuatan, materi, atau apapun bentuknya. Semoga saya dan kita semua terhindar dari amalan yang tertunda karena belum melunasi hutang-hutang kita selagi hidup di dunia.

So, please remind me if I still owe you something, or have a promise that I forgot..

*self reminder late at night*

Climbing Mount Fuji (Part 3: our way down from the mountain)

Okay, this is the last part of my stories after Part 1 and Part 2.

To reach the summit is the dream of every climber, and finally I was able to feel how the climber felt as soon as they’ve reached the summit. All the hard works have been paid well after reaching the summit.

okay, this is (only??) the summit

okay, this is (only??) the summit

The weather was really cold at the summit, thus, people suggested me and my friend for not staying too long at the summit, and kept moving around in order to prevent ourselves from coldness.

We took some pictures together with full team members, then, we stayed inside the small shop and ate udon n ramen. Some of my friends went to the post office located at the summit to send their postcards from top of Mount Fuji. Meanwhile, the other friends were waiting inside the shop. Some of us intended to get a little sleep while waiting, but the owner suggested us not to take a sleep because the air was so thin at the summit.

the lodge

ramen and udon shop

There were some shops that sold the merchandise of Mount Fuji. The sellers also provide a graffiti of name and the date of the climbing as a memory of climbing up to the summit. However, the prices of the merchandise were quite expensive, it costed around 800 yen to get a key chain with name and date of climbing. Continue reading