“If you remain in your comfort zone you will not go any further.”
Catherine Pulsifer (motivator)
Bunda sangat setuju dengan kata-katanya mba Catherine diatas, jika kita terus menerus berada di zona nyaman, kita tak akan bisa melangkah lebih jauh lagi, kita hanya akan jalan ditempat. Seorang Steve Jobs tidak akan pernah bisa melahirkan Apple jika ia tidak drop out dari sekolahnya dan kemudian memilih untuk belajar di kelas kreatif, demikian pula dengan Albert Einstein, kita tidak akan mengenal teori relativitas Einstein jika ia tetap bersekolah di sekolah formalnya. Mereka adalah contoh orang-orang yang berani keluar dari zona yang dianggap nyaman dan menjanjikan bagi kebanyakan orang, namun tidak untuk mereka.
Zona nyaman untuk usia bunda adalah memiliki keluarga, memiliki pekerjaan dengan gaji yang lumayan, punya rumah dan kendaraan, bisa keluar tiap wiken untuk makan bareng keluarga di mall, liburan ke tempat-tempat wisata, dll. Dan bunda akui, saat ini bunda memang berada di zona nyaman itu, tepatnya semenjak bunda lulus D4 dan kembali ke tempat kerja, setelah sebelumnya selama 2,5 tahun berusaha bertahan dengan ancaman DO saat kuliah dan gaji minim *baca:dipotong 50%*.
Sudah hampir 1,5 tahun bunda bekerja, dan insyaAllah akan terus berlanjut di tahun ini, namun saat ini bunda sudah mulai bersiap-siap untuk beranjak dari zona nyaman ini. Kenapa? Alasannya sederhana: bunda ingin terus maju, dan tak ingin terperangkap di satu tempat dalam jangka waktu lama.
Jadi, zona tidak nyaman yang bunda pilih adalah kembali meneruskan kuliah dengan konsekuensi gaji yang dipotong kembali dalam jangka waktu sekitar 2 tahun, dan yang membuatnya makin menantang adalah karena keinginan bunda untuk meneruskan kuliah di negeri orang, yang artinya perlu ada adaptasi tingkat lanjut dalam hal suhu, cuaca, lingkungan pergaulan, bahasa, dll.Keluar dari zona nyamannya tidak seekstrim yang dilakukan orang lain ya, tapi setidaknya ini adalah suatu lompatan bagi bunda.
Dan saat ini bunda sedang merintis jalan menuju zona tidak nyaman ini, mungkin ironis untuk dibaca, karena kebanyakan dari kita justru berusaha untuk meraih zona nyamannya, dengan berbagai cara, namun ketika bunda berada di zona nyaman, bunda malah memilih untuk keluar. Awalnya dilema untuk meninggalkan zona nyaman, karena keperluan keluarga yang makin besar, belum lagi nanti ketika kakak mulai sekolah, ditambah dengan cicilan yang makin bertambah, serta lingkungan kerja yang sebenarnya sudah sangat menyenangkan untuk bunda.
Namun, bunda justru takut jika terus menerus berada di zona nyaman ini, takut jika bunda terlena akan kenikmatan zona nyaman itu, padahal masih banyak yang seharusnya bisa bunda lakukan di usia sekarang, masih banyak perjuangan dan kerja keras yang harus dilakukan, dan zona nyaman itu belum layak bunda nikmati saat ini, nanti saja, jika bunda sudah berusaha sebaik mungkin, hasilnya akan terasa lebih nikmat untuk dirasakan.
Akhirnya, bunda putuskan untuk keluar dari zona nyaman bunda, kenapa hanya keputusan bunda? karena bunda tau, ayah sudah merasa nyaman berada di zona nyamannya, jadi, jika ayah sudah tidak antusias untuk keluar dari zona nyaman, maka bunda lah yang harus keluar dari zona nyaman ini.
Salah satu langkah yang bunda ambil adalah dengan mengikuti conversation class tiap sabtu, untuk meningkatkan kemampuan berbicara dalam bahasa inggris, yang insyaAllah akan bermanfaat ke depannya. Selepas dari kelas ini, bunda akan mengikuti kelas course preparation di tempat yang sama.
Tak cuma bunda, kakak pun sedang bunda persiapkan untuk keluar dari zona nyaman ini, mulai dari mencarikan kakak sekolah (yang selama ini ia nyaman hanya berada di rumah dan bersosialisasi dengan mbak dan teman-teman), dan persiapan untuk bunda tinggalkan jika bunda jadi meneruskan kuliah di luar negeri. Bunda juga tak ingin membuat kakak berasumsi bahwa orang tua nya bisa memberikan segalanya untuk kakak, tentu kami akan berusaha memberikan yang terbaik, tapi tidak semua hal dapat kami penuhi karena keterbatasan kami, dan kami ingin membentuk kakak menjadi pribadi yang tangguh, yang bisa survive dalam kerasnya hidup, salah satunya dengan langkah yang akan diambil ini.
Mulai saat ini pun kami sudah harus menabung ekstra banyak, karena persiapan menuju zona tidak nyaman ini tinggal kurang lebih satu-dua tahun lagi, sementara dalam waktu dua tahun ke depan, kakak akan masuk TK, dan karena TK yang bunda pilih untuk kakak hingga saat ini adalah TK yang berbudget relative besar, jadi mau tak mau mesti mau untuk menabung lebih banyak,karena dana pendidikannya belum cukup.
InsyaAllah akan ada jalan jika ada kemauan, namun perlu ada pengorbanan kecil yang harus dilakukan untuk sesuatu yang lebih besar, dan saat ini, insyaAllah bunda rela untuk mengorbankan sesuatu yang telah kami miliki dan membuat kami merasa nyaman selama ini, untuk tujuan yang lebih besar, dan lebih bermanfaat insyaAllah.
Semoga keputusan kami ini tepat, dan insyaAllah jika sudah tepat waktunya, zona nyaman itu akan terasa lebih nyaman saat diraih.
“Move out of your comfort zone. You can only grow if you are willing to feel awkward and uncomfortable when you try something new.”
(Brian Tracy)






Mbak Mauna hebat. Berani memutuskan utk melepaskan comfort zone demi sesuatu yang lebih baik. Tidak semua orang berani melakukan itu. Apalagi emak-emak. Salut.
mba indah..makasih dah mampir kesini
saya salut dg mba indah karena menurut sy mba indah lebih berani lg utk keluar dr zona nyamannya dibanding sy yg baru merencanakan
sukses ya mba…saling mendoakan…
wah, bunda sangat hebat, berkeinginan tinggi dan sangat bersemangat! *saluuut*
makasih mba el…salam kenal…